Katanya mimpi hanyalah bunga tidur. Namun, aku lebih sepakat dengan yang bilang bahwa mimpi adalah representasi alam bawah sadar. Faktanya mimpiku tidak pernah benar-benar berbeda dengan kenyataan. Jika aku pikir-pikir kembali, mimpiku adalah kumpulan dari angan-angan ku, kecemasanku, ketakutanku, juga pengetahuanku. Seperti mimpiku tadi malam dan malam-malam sebelumnya. Aku sedang bersama seseorang. Aku mencintainya dan bahagia ketika bersamanya. Ia juga terlihat bahagia dan mempunyai perasaan yang sama denganku. Namun aku di dalam mimpi merasa cemas dan takut melanjutkan jalan berdua dengannya di tempat yang sepi yang jauh dari kerumunan. Aku takut tidak kuasa mengontrol diriku yang sangat mencintainya. Padahal hanya mimpi. Namun aku di dalam mimpi pun tetap selalu menahan diri. Di mimpi lainnya, aku sedang bersama seseorang yang di dalam mimpi tersebut apa yang dia lakukan sama persis dengan kenyataan. Ia perhatian, lemah lembut, dan sering membantuku, namun tatapannya mengatakan bahwa Ia tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Setiap kali terbangun dari mimpi yang seperti itu, aku merasa dadaku sesak. Aku ingin menangis tapi tidak bisa menangis. Bukan, bukan karena aku menyesal tidak melakukan banyak hal di dalam mimpiku. Oh my, tidak bisakah perasaan yang membuncah ini tidak kembali terulang di mimpi? Atau setidaknya bisakah semesta mendukungku di alam mimpi? Aku tau perasaan itu seharusnya tidak ada. Namun, perlukah semesta mimpi mengingatkanku kembali?
Sincerity and Warmhearted
I’m impressed yesterday. Aku terkesan pada perilaku seseorang. Mungkin itu adalah hal yang biasa dia lakukan, mungkin hal itu merupakan bagian dari dirinya, bahkan mungkin dia tidak sadar saat melakukannya. But, it touched and warmed my heart. Apa yang dia lakukan? Dia mengapresiasi pencapaian kecilku. Dia memuji ketika aku berhasil, tetap tersenyum ketika aku mengacaukan permainan, dan tetap menyemangati bahwa aku pasti bisa. Awalnya hanya seperti angin lalu, namun Ia selalu melakukannya terus menerus seolah itu adalah hal yang sepele untuk dilakukan. Pada akhirnya aku menyadari apa yang dilakukannya, and I’m impressed. Mungkin di tulisan tulisan sebelumnya, aku pernah menyiratkan bahwa “words of affirmation” pada diriku jarang terpenuhi. Aku biasa hanya menganggap “words of affirmation” sebatas angin lalu. Tapi ketika hal itu dilakukan konsisten dan berulang kali, rasanya ada sesuatu yang menjalar hangat dalam dadaku. Ya Tuhan, apapun dan bagaimanapun takdir yang Ia jalani ke depannya, tolong jaga kehangatan dan ketulusan agar selalu terpancar dari dirinya. It’s something that not everyone has. Thank you for your sincerity:))
Self Dialogue (1)
Dear little Afifah,
Aku hanya ingin sejenak berbincang denganmu. Terima kasih telah bertahan. Sekarang aku dapat memahami apapun yang kau lakukan. Kau melakukan semua hal bukan tanpa alasan. Mungkin kau tidak menyadari, tapi aku menyadari. Saat semua orang, bahkan kau pun berpikir bahwa kau tidak memiliki impian, jauh dalam lubuk hatimu kau memikirkannya dan memilikinya. Sebuah impian yang sempurna. Namun seiring kau tumbuh menjadi dewasa, kau berpikir dan khawatir bahwa mimpi itu terlalu jauh darimu. Sedangkan keinginan yang dekat denganmu saja tidak dapat kau raih. Aku tahu, setiap kompetisi kau selalu berharap meraih minimal juara 3, namun kau hanya stuck sampai semifinal. Setiap olimpiade yang kau ikuti, kau selalu berharap lolos sampai nasional, namun kau hanya dapat sampai tingkat provinsi. Bahkan setiap nilai raport semester diumumkan, kau selalu berharap dapat meraih juara umum, namun kau hanya sebatas juara kelas. Hingga lambat laun kau tidak pernah berharap lagi dan hanya menjalankan rutinitas. Aku paham, di sisi lain kau pun tahu banyak orang yang menginginkan posisimu. Namun aku tau persis, apa-apa yang tidak sejalan dengan harapan, bagi seseorang itu bisa dikategorikan ke dalam kegagalan. Dan kegagalan sama menyakitkannya untuk semua yang mengalaminya. Dan kau dari dulu memendam kesedihanmu itu, kau tidak menceritakannya karena kau memang tidak terbiasa untuk bercerita dan kau pikir tidak semua orang bisa paham sudut pandangmu. Semua orang berkata: good job Afifah, congratulations kamu lulus semi final atau kamu lulus ke tingkat provinsi atau kamu juara kelas! Tapi hampir tidak ada yang mengatakan: tetap semangat Afifah, lain kali kamu pasti bisa sampai tingkat nasional, lain kali kamu pasti bisa memenangkan kompetisi itu. Di sisi lain kau juga tau bahwa pencapaianmu ini wajib disyukuri dan tidak semua orang bisa mencapai posisimu. Aku dapat memahami tindakanmu.
Kau tahu? Hidup manusia memang selalu kompleks. Ada suatu hal yang aku pelajari di usiaku yang hampir seperempat abad ini. Yakni tidak mengapa jika kau tidak ingin bermimpi atau tidak mempunyai cita-cita. Hei, tidak punya cita-cita bukan berarti tidak punya keinginan, kan? Yang perlu kau lakukan hanyalah tidak berhenti mengusahakan yang terbaik apapun fase yang harus kau lalui. Kau hanya perlu menyadari bahwa kau telah dikaruniai kemampuan tertentu di atas rata-rata. Apakah kau hanya akan membiarkannya saja dan tidak memakainya? Jika kau tidak bersemangat dalam belajar karena tidak mempunyai mimpi, kau bisa memikirkan ulang tujuanmu. Apakah tujuanmu hanya sebatas memenuhi ekspektasi society atau untuk memanfaatkan pemberian Tuhan dengan semaksimal mungkin. Hanya kau yang memahami tujuan pribadimu itu. Namun, selalu usahakan yang terbaik. Semoga seiring berjalannya waktu, kau akan menemukan impian-impian baru. Hei, bukankah salah satu impian terpendammu adalah menjadi ibu rumah tangga yang baik? Wkwk. Kau pasti tahu menjadi ibu rumah tangga harus pintar, harus cerdik. Dan kecerdikan itu perlu diasah dengan selalu mengusahakan yang terbaik. Ibu rumah tangga juga perlu berpendidikan. Mengenai pendidikan tingkat lanjut, aku juga mempunyai beberapa saran untukmu.
Kau tahu? Dunia kuliah ternyata sangat berbeda dengan sekolah. Saat kuliah aku tidak lagi menjadi “juara”. Itu sempat membuat aku terpuruk selama beberapa semester, sebelum akhirnya aku berani menerimanya dan instrospeksi diri. Ternyata aku dahulu memasuki dunia perkuliahan dengan sangat tidak siap. Pertama adalah pahami cara belajarmu. Ternyata dahulu ini adalah kunci aku selalu menjadi juara kelas. Aku adalah seorang audio. Di mana seorang audio cepat belajar melalui suara, antara dia mendengarkan penjelasan orang lain atau dia yang menjelaskannya ke orang lain. Ssstt kau terkadang saat menjelaskan ke orang lain dalam keadaan tidak paham, namun seiring mengajarkan orang lain kau menjadi paham, bukan? Dan ketika berkuliah, cara belajarku yang seperti itu kurang tersupport karena karakterku yang tidak cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Lingkunganku individual, sibuk dengan urusan masing-masing, dan mereka lebih berpengalaman dalam jurusan kuliah. Mereka familiar dan passionate dengan pemrograman dasar. Itu kesalahanku. Maka saranku yang kedua adalah cari tau detail jurusanmu, bahkan kalau bisa cicil sebagian skill inti yang dibutuhkan di jurusanmu sebelum kau masuk. Even jika jurusan kuliahmu hanyalah saran dari orang lain. Ternyata otakmu yang pintar itu sebaiknya tidak menganggur sebelum kuliah. Atau jika terlanjur berada sama dengan posisiku dulu, jangan lari dari masalah. Berusaha belajar dan bertanya kepada teman-temanmu yang lebih berpengalaman itu. Tidak mengapa dianggap bodoh karena tidak mengetahui hal yang seharusnya sudah kamu ketahui. Singkirkan harga diri yang tidak berguna itu. Sungguh, tidak mengapa dianggap bodoh. Namun kau perlu tahu, tidak semua orang bersifat judgemental. Ada orang-orang yang kagum terhadap orang yang berani bertanya dan mengemukakan kalau dia belum paham akan suatu hal. Karena jika tidak sekarang, kau akan lebih kesulitan nantinya. Okey, cukup dulu ya. Tidak terasa ternyata perbincangan kita ini tidak singkat. Dear little Afifah and everyone who has a similarity to her, kisah ini untukmu.
Longing (2)
Pernah gak sih kalian merindukan seseorang yang dahulu pernah begitu dekat dan kehadirannya masih berkesan hingga sekarang? Aku mengalami itu. Kemarin dirimu hadir di dalam bunga tidurku. Sosokmu yang tak pernah lagi kulihat dan kudengar kabarnya selama bertahun-tahun kembali hadir. Bayanganmu seolah nyata di hadapanku. Seketika emosi sedih dan menyesakkan hati menguasaiku. Aku tidak tau apakah ini adalah sebuah pertanda ataukah hanya suatu kebetulan. Mungkinkah pertanda bahwa perasaan kita tak lagi sejalan, ataukah pertanda bahwa Tuhanku sedang merindukan aku untuk memohon dan bercerita kepada-Nya. Atas semua hal yang aku pendam belakangan ini. Sungguh, andai kau tau, aku sangat merindukan sosokmu.
Beyond Human and Robot
One day, I wished that I was an Alexithymia
There would be no emotions such as fear, disappointment, heart-broken, or grudge
I would only need to learn to do good things
There would be no fear of being rejected after making mistakes
No fear of being humiliated to get out of old habits
No hesitation to help those who have let us down
But then, I also thought that emotions aren’t just about fear and fury
There are also good emotions like happiness, enthusiasm, and falling in love
There’s excitement when receiving gifts
There’s a joy in helping others
There’s happiness when feelings of love reciprocate
And there’s a rush of enthusiasm when faced with challenges
Now, I do realize that emotions are what make us human
We are not robots
We are human
Satire to Society (1)
“Apa kabar siswa yang dulunya juara kelas? Pada jadi apa sekarang?”
Aku. Aku disini. Aku tertawa saat mendengar video yang mengandung kalimat tersebut atau semacamnya. Aku tidak tersinggung. Oh, ada yah orang yang peduli dengan hal itu. Bagaimana mungkin, aku saja melihat hidupku penuh anugerah. Ternyata dahulu aku bisa meraih semua itu. Namun jangan sangka menjadi juara kelas hidupmu akan selalu mulus. Pernah dikucilkan satu kelas karena ternyata hanya aku yang mengerjakan tugas. Sering mengalami fenomena teman-teman pada baik saat ada tugas atau dekat waktu ujian saja, setelah itu balik lagi diolok-olok, dikata-katain, dan verbal bullying lainnya. Untungnya tidak pernah kekerasan fisik. Memangnya itu enak?
Ketahuilah bahwa setiap orang mengalami kesulitannya tersendiri di setiap masanya. Mungkin aku beruntung memiliki nilai rapor akademis yang bagus. Ada juga yang beruntung karena memiliki bakat yang menonjol misalnya suara yang bagus, kepercayaan diri yang tinggi, hobi yang fully supported, keluarga yang hangat, dan lain sebagainya. Bukankah dahulu society yang membuat standar bahwa juara kelas adalah suatu hal yang penting. Lalu saat dewasa, society juga yang seolah meremehkan, kemana ya berkiprahnya sang juara ini? Padahal bisa saja, siswa yang juara kelas dahulu tidak merasa bahwa yang diraihnya adalah anugerah, karena tekanan lingkungan sekitarnya. Tolong berhenti berpikir bahwa ketika seseorang meraih apa yang tidak dapat kau raih, hidupnya lebih menyenangkan. No one knows what exactly happened to others.
Yang bertanya kabarku, aku baik-baik saja. Thank you so much for asking me:)
Accepting Past
Malam ini aku teringat akan suatu hal. Saat berbincang denganmu kali terakhir. Aku tak lagi merasakan hal yang sama seperti dulu. Aku tak lagi menunggu sapaanmu. Aku tak lagi menunggu momen ketika aku dapat berbincang denganmu. Bahkan aku bisa merasa jengkel dengan kata-katamu. Ada apa denganku? Apakah diriku tak lagi menganggapmu penting? Tapi tak mengapa, seharusnya perasaan seperti ini yang aku rasakan dari dulu. Bukan perasaan menggelitik atau hasrat ingin dicintai. Tak apa-apa, berkatmu aku lebih memahami diriku. Aku tau apa yang aku inginkan. Aku tau tujuan hidupku. Aku lebih menghargai perasaanku. Aku juga lebih menghargai orang lain. Ternyata cinta begitu dahsyat yah. Dahulu, apapun yang kau lakukan atau katakan, aku tak pernah merasa jengkel-yang tak dapat diutarakan. Aku dapat menerima dengan lapang dada apapun yang kau katakan. Maafkan aku, sekarang hal itu tidak berlaku lagi.
Hating Behaviour
Sebelum tidur, aku teringat kejadian kemarin. Aku tidak suka melihat seseorang memasak. Ia memasak dalam porsi yang besar, dua panci ukuran sedang yang biasa ditemukan di rumah rumah, padahal hanya untuk dirinya sendiri. Meskipun akhirnya kami bertiga-aku dan dua temanku intervensi ia ketika memasak dan ikut menyantap masakannya. Aku tidak suka melihat cara ia memasak. Meskipun pada kenyataannya masakannya tidaklah buruk. Tapi pada prosesnya, ia mencampurkan banyak hal sesuka hatinya. Ia juga memakai micin terlalu banyak. Astaga, baru kali ini aku membenci sesuatu hal yang pada akhirnya aku mengatakan bahwa hasilnya tidaklah buruk. Apa yang aku rasakan tadi? Aku tak pernah membenci sebegitu besarnya, yang kemudian aku masih bisa memuji hasil akhirnya. Yah, manusia memang unik. Ternyata ada manusia seperti dia. Memasak dengan tujuan healing. Namun prosesnya membuat seseorang begitu amat tidak suka melihatnya. Tapi tak mengapa, apapun yang kita lakukan tak akan pernah membuat senang seluruh manusia, bukan?
Writing Encouragement
Kata Bang Tere, jika ingin menjadi penulis, maka rutinkan menulis seribu kata setiap hari selama 180 hari. Niscaya esok hari akan kau temukan tulisanmu akan sebanding hebatnya dengan penulis yang hari ini bukunya kau baca atau idolakan. Maka aku pun memaksa diriku untuk melakukannya-meski mungkin tidak langsung seribu kata perhari. Aku bercita-cita menjadi penulis fiksi atau opini. Aku menyadari kelemahanku dalam hal berbicara di depan publik, maka aku ingin melontarkan opini dan imajinasiku lewat tulisan. Namun aku pernah mendengar atau membaca di sosial media bahwa ketika kau menulis, posisikan dirimu sebagai penulis, bukan editor. Sering kali yang menjadi penghambat seseorang ketika menulis adalah ia memposisikan dirinya sebagai editor, seperti apakah tulisan ini enak dibaca atau didengar, layak kah dikonsumsi publik, sesuai kah dengan ejaan yang benar, dan lain sebagainya. Coba mulai saja dahulu. Tuangkan saja apa yang ada di pikiranmu saat ini. Nanti baru dikoreksi belakangan.
Dalam suatu video Utube, Bang Tere pernah berkata bahwa untuk menuangkan apa yang ada di pikiranmu menjadi sebuah tulisan, pikiran perlu amunisi. Amunisi disini adalah bacaan, artinya perlu banyak membaca sebelum menulis. Namun di satu sisi aku juga pernah mendengar bahwa menulis adalah salah satu cara untuk membuktikan bahwa kau memahami apa yang pernah kau baca atau pelajari. Semakin sederhana atau mudah dipahaminya seseorang dalam menjelaskan atau mendeskripsikan suatu hal, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pemahamannya akan hal tersebut. Jadi membaca dan menulis adalah hal yang semestinya serangkaian. Tidak hanya membaca tentang banyak hal, namun tidak juga hanya menuliskan tentang banyak hal. Aku ingin menjadi penulis. Bukan untuk membuktikan bahwa diriku mempunyai eksistensi di dunia ini. Bukan untuk membuktikan bahwa aku hebat dan aku mempunyai karya. Tapi untuk diriku sendiri dan masa depanku. Bahwa aku menyukai sensasi ketika melontarkan kata-kata. Syukur syukur kalau itu adalah kata-kata yang indah dan bermakna.
Tahukah kau bahwa manusia modern mengeluarkan rata-rata seribu kata perhari di media sosial mereka? Bahkan wanita perlu mengeluarkan kata-kata hingga dua puluh ribu kata. Aku tahu, aku tak dapat berbicara dengan fasih seperti pembicara terkenal, aku juga tidak pandai berpose atau very good looking person seperti selebriti instagram atau tiktok. Aku akan memilih jalanku disini, lewat tulisan. Sejak menonton drama korea Twenty Five Twenty One, aku ingin sekali mempunyai buku harian seperti Na Hee-Do. Aku tahu hidup tak akan pernah mudah. Bagiku menulis adalah salah satu cara untuk merilis emosi. Aku dibesarkan dalam keluarga yang utuh, namun tidak terbiasa untuk berbagi perasaan. Buku harian adalah sahabatku. Aku ingin selangkah lebih maju. Tidak hanya menulis di buku harian yang bersifat sangat personal, namun juga untuk konsumsi publik. Bang Tere berkata bahwa kunci menjadi penulis yang baik adalah latihan, latihan, latihan. Aku tau bahwa konsisten itu sulit. Namun aku akan terus mencoba.
Drama Arthdal Chronicles
Title: Arthdal Chronicles (English title)
Revised romanization: Aseudal Yeondaegi
Hangul: 아스달 연대기
Director: Kim Won-Suk
Writer: Kim Young-Hyun, Park Sang-Yeon
Network: tvN
Episodes: 18
Release Date: June 1 – July 7, 2019 (Part 1-2) / September 7 – 22, 2019 (Part 3)
Runtime: Sat. & Sun. 21:00
Language: Korean
Country: South Korea
Main Actors: Song Joong-Ki, Kim Ji-Won, Jang Dong-Gun, Kim Ok-Vin
In a pyramid system, if you want to go to the top, you need shock or chaos. Otherwise we will forever be at the bottom.
-Saya
Zaman dahulu kala, hiduplah dua ras manusia yang disebut Saram dan Neanthal. Neanthal merupakan manusia berdarah biru yang mempunyai fisik yang sangat kuat, cepat dan tangkas. Mereka hidup berdampingan di alam terbuka dengan satwa liar. Saram merupakan manusia berdarah merah, mempunyai kemampuan fisik di bawah Neanthal, namun mempunyai kecerdasan dan ambisi. Mereka pandai mengolah sumber daya alam seperti bertani, membangun rumah, membuat persenjataan dari batu, kayu, logam dan juga mengembangkan kemampuan bela diri atau bertarung. Suatu ketika Saram di daerah Arthdal ingin bekerja sama dengan Neanthal dalam hal pertanian karena Saram mempunyai ambisi, yakni ingin memperluas wilayah kekuasaan dan memperkuat lumbung pertanian mereka. Namun Neanthal menolak kerja sama tersebut. Ketua Arthdal pun mengirim utusan yaitu Asa Hon, dan banyak hadiah untuk negosiasi ulang. Ternyata di antara hadiah tersebut, mereka mengirimkan wabah mematikan yang hanya menjangkiti ras Neanthal dan diam-diam mengirimkan sejumlah tentara untuk perang dengan Neanthal. Asa Hon yang mengetahui bahwa ras Saram mengkhianatinya, memilih untuk membantu menyelamatkan anak-anak Neanthal korban peperangan dan menetap di daerah Neanthal. Dia juga jatuh cinta pada pria Neanthal dan mempunyai dua bayi kembar identik. Darah campuran Saram dan Neanthal ini berwarna ungu dan mereka disebut Igutu. Saat anak mereka masih bayi, Arthdal kembali memerangi ras Neanthal yang tersisa dan suami Asa Hon pun terbunuh. Satu bayi yang bersama suami Asa Hon diambil dan dirawat oleh putra tunggal ketua Arthdal yang bernama Tagon. Karena merasa tidak aman berada di daerah tersebut, Asa Hon lalu membawa bayinya pergi mengembara ke daerah yang jauh yaitu Iark.
Bayi itu bernama Eunseom. Saat berumur 10 tahun, Eunseom dan Asa Hon tiba di daerah Iark. Namun tak lama setelah itu, Asa Hon meninggal dunia karena kesehatannya yang terus memburuk. Di Iark, Eunseom berteman dekat dengan Tanya, putri kepala suku Wahan yang merupakan keturunan langsung leluhur sakti mereka, Serigala Putih. Eunseom yang merupakan Igutu mempunyai ingatan dan fisik yang kuat dan kerap bermimpi ketika tidur, yang mana ras Saram tidak pernah bermimpi. Ia kerap menceritakan mimpinya kepada Tanya. Dalam mimpinya, ia melihat dirinya berada di kehidupan lain yang sangat berbeda dengan kehidupannya sekarang. Sosoknya di mimpi mengenakan pakaian yang bagus, tinggal di ruangan dari batu, membaca banyak buku, menunggang kuda, dan lain sebagainya. Suatu hari karena mimpi tersebut, Eunseom ingin menunggang seekor kuda yang kemudian hari diketahui sebagai kuda terkuat yang ada di dalam legenda Arthdal.
I want you to be my subordinate. I don’t know how to handle subordinates. That’s why I’m always good to you. But I guess the way I did it was wrong.
-Eunseom
10 tahun kemudian, ketua Arthdal yaitu Sanung Niruha ingin memperluas wilayah kekuasaannya hingga Iark. Ia mengerahkan banyak tentara ke Iark. Tujuannya adalah untuk menjadikan masyarakat suku Wahan sebagai tambahan budak pekerja di Arthdal. Pada saat itulah Eunseom berpisah dengan Tanya, karena ia dibawa kabur oleh kuda yang ia tunggangi. Namun Eunseom bertekad untuk menyelamatkan suku Wahan dan menyusul ke Arthdal. Saat di Arthdal, Eunseom bertemu dengan Sanung Niruha dan menculiknya dengan tujuan negosiasi dengan pejabat Arthdal, menukar ketua mereka dengan suku Wahan. Namun Tagon yang menjadi perwakilan Arthdal malah membunuh ayahnya sendiri dan mengkambinghitamkan Eunseom sehingga Eunseom menjadi buron tentara Arthdal dan suku Wahan dipenjarakan. Namun, Eunseom tidak menyerah. Ia secara tidak sengaja mengetahui rahasia terbesar Tagon dan melakukan negosiasi pribadi dengannya. Tagon adalah seorang Igutu, yang mana masyarakat Arthdal sangat membenci Igutu dan Neanthal berkat peperangan 20 tahun belakangan. Berkat negosiasi itu, suku Wahan dikeluarkan dari penjara dan diberi pekerjaan kasar budak. Namun penderitaan tidak hanya sampai di situ, Eunseom mengalami banyak hal dalam menyelamatkan teman-teman suku Wahan yang terpisah karena mencoba kabur, ia berulang kali dijual sebagai budak dan dikhianati oleh rekannya. Namun ia tetap selalu berbuat baik di mana pun ia berada.
If everyone is afraid, it means that we are not cowards, but our opponent is too strong. There are two choices: if you want to fight then do it together, if you want to run away then do it quietly.
-Choseol
Di sisi lain, Tagon mempunyai seorang kekasih yang bernama Taealha. Taealha merupakan anak seorang pengusaha pabrik perunggu satu-satunya di Arthdal. Dulu ketika Tagon mengadopsi seorang anak Igutu, ia memercayakan anak tersebut untuk dibesarkan oleh Taealha. Anak itu bernama Saya. Taealha merupakan wanita yang sangat cantik, pintar, dan pandai bela diri. Ia digambarkan sebagai sosok kekasih idaman. Ia dapat mengimbangi sosok Tagon yang kuat dan disegani masyarakat. Ia kerap menyemangati, mengingatkan, mengapresiasi, hingga memercayai Tagon sepenuhnya. Di sisi lain cerita, Tanya secara tidak sengaja bertemu Saya di kamarnya di menara markas keluarga Taealha. Saya mempunyai wajah yang sangat mirip dengan Eunseom. Karena Tanya mengetahui bahwa Saya adalah Igutu, ia dijadikan disandera dan dijadikan pelayan di rumah Tagon. Seiring berjalannya waktu, Tanya menjadi dekat dengan Saya. Saya menceritakan bahwa ia kerap bermimpi ketika tidur dan ada Tanya di dalam mimpinya. Tanya kemudian mengambil kesimpulan bahwa yang ada di mimpi Saya merupakan kehidupan asli Eunseom dan yang ada di mimpi Eunseom merupakan kehidupan asli Saya. Namun ia menyimpan informasi itu untuk dirinya sendiri.
Seiring berjalannya waktu, Saya, Tagon, Taealha mengetahui bahwa Tanya merupakan keturunan langsung dari leluhur sakti Arthdal yaitu Asa Sin dan bahwa Serigala Putih leluhur suku Wahan merupakan Asa Sin. Hal ini dimanfaatkan oleh Tagon untuk memutus hubungan dengan pendeta tinggi Arthdal saat ini yaitu Asa Ron dan menarik simpati masyarakat dengan fakta itu. Karena Asa Ron merupakan keturunan tidak langsung dari Asa Sin dan berlaku sewenang-wenang terhadap kekuasaannya sebagai pendeta tinggi. Lewat Saya, Tanya menyadari bahwa ia dapat melindungi keluarganya jika ia memiliki kekuasaan, dan ia pun setuju untuk bekerja sama dengan Tagon dan Taealha. Namun jalannya tidaklah mulus. Tanya harus membuktikan bahwa dirinya adalah keturunan langsung Asa Sin dengan cara menemukan lonceng bintang. Ia mengingat kembali pelajaran-pelajaran dari ibunya dan menerapkannya. Dan ia berhasil. Dengan Tanya menjadi pendeta tinggi Arthdal, suku Wahan menjadi lebih dihormati. Ternyata itu baru permulaan. Dengan menjadi pejabat Arthdal, Tanya kerap berselisih antara mempertahankan kekuasaan, mengikuti strategi Tagon dan Taealha atau mengikuti hati nuraninya untuk tidak mengorbankan orang yang tak bersalah. Namun Tanya adalah wanita cerdas, ia cepat belajar dan menjadi tidak terperdaya oleh apapun. Apakah dengan bersatunya Tagon, Tanya, Taealha, dan Saya akan membuat negeri Arthdal menjadi lebih baik? Bagaimana nasib Eunseom dalam menyelamatkan Tanya dan suku Wahan? Tonton drama ini untuk mengetahui jawabannya. Kisah ini masih berlanjut di season 2 yang akan tayang tahun depan.
Promise us that we will not sacrifice our lives and not betray each other.
Tagon & Taealha
