Andalan

Why Are We Feelin’ Blue Under The Blue Sky

Some people may feel like a color
The fire they used to carry
When effort met reward
Like old friends
Who kept their promises

Now they wake
To the same routine
Same steps
But nothing blooms like it used to
And that loss
It isn’t loud
But it lingers

Some never held
What they want it most
They remember a smile from a sunny day
Under the blue sky
Like it happened yesterday
They walk beside the memory
Calling it by name, in silence

Both of them
Under the same sky
Feel the same ache
For different ghosts

But sometimes, they pause
Feel a faint warmth
In the chest
A whisper: what if…?
What if we’re still becoming?
What if we believe?
Can be rebuilt
Not found?

So they stay
Not because they know
But because they want to know
How it feels
To trust, again

And maybe
Just maybe
That’s enough
For now

Andalan

Antara Cinta dan Kasihan

“Aku ingin menjadi tanah pijakan yang kokoh untukmu.”

Yu Ji-Hyeok (Marry My Husband)

Kalimat itu terdengar di telingaku, membuatku menghela nafas. Aku berpikir, betapa naif nya dia. Apa hanya itu yang dia inginkan? Tanpa sadar, air mata mengalir di pipiku. Meski naif, aku merindukan seseorang seperti dia di hidupku. Bagaimana mungkin? Ya, itu namanya cinta. Cinta yang pernah kurasakan. Harapan yang membuatku bertahan meski tahu semua sia-sia.

Aku pernah mendengar, cinta terkuat itu adalah yang dilandasi rasa kasihan. Tapi kebanyakan manusia tak suka dikasihani. Mungkin maksudnya bukan kasihan biasa. Ji-Hyeok merasa kasihan pada Ji-Won, yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Suami dan sahabatnya berselingkuh, ia stres sampai kena kanker, sering di-bully oleh teman-temannya dan bahkan atasannya. Lebih dari itu, Ji-Hyeok kasihan pada dirinya sendiri. Dia punya banyak kelebihan, dia dianugerahi banyak privilege, tapi tak punya ambisi. Dia hidup mengikuti arus, tanpa berani mengambil keputusan.

Kasihan. Apakah manusia sebegitu bencinya dikasihani? Apakah dikasihani adalah sesuatu yang teramat buruk? Aku rasa tidak. Manusia hanya takut ada perasaan lain yang menyertai kasihan. Perasaan seperti lemah, minder, takut bergantung, dan dikhianati. Mungkin manusia tak masalah dengan rasa kasihan yang tulus. Karena kasihan juga bentuk cinta. Setidaknya, itulah yang kupercaya dan kuyakini. Ya, aku pun ingin menjadi tanah pijakan yang kokoh bagi orang-orang yang aku sayangi.

Andalan

Beyond Human and Robot

One day, I wished that I was an Alexithymia
There would be no emotions such as fear, disappointment, heart-broken, or grudge
I would only need to learn to do good things
There would be no fear of being rejected after making mistakes
No fear of being humiliated to get out of old habits
No hesitation to help those who have let us down

But then, I also thought that emotions aren’t just about fear and fury
There are also good emotions like happiness, enthusiasm, and falling in love
There’s excitement when receiving gifts
There’s a joy in helping others
There’s happiness when feelings of love reciprocate
And there’s a rush of enthusiasm when faced with challenges

Now, I do realize that emotions are what make us human
We are not robots
We are human

Drama Unlock My Boss

Title: Unlock My Boss
Revised romanization: Sajangnimeul Jamgeumhaeje
Hangul: 사장님을 잠금해제
Director: Lee Chul-Ha
Writer: Park Sung-Hyun (webcomic), Kim Hyeong-Min
Network: ENA, Prime Video
Episodes: 12
Release Date: December 7, 2022 – January 12, 2023
Runtime: Wed. & Thur. 21:00
Language: Korean
Country: South Korea
Main Actor: Chae Jong-Hyeop, Seo Eun-Su, Park Sung-Wung

Aku tidak menyangka akan jatuh pada cerita tentang seorang CEO yang masuk ke dalam ponsel, setidaknya begitulah sinopsisnya. Aneh, kan? Tapi mungkin memang begitulah hidup kadang terasa: absurd, tiba-tiba, dan kadang tidak selalu sejalan dengan logika. Series ini bukan sekadar kisah fantasi teknologi. Ia adalah kisah tentang seseorang yang masih ingin hidup, bahkan jika itu terasa sulit. Tentang seorang pengangguran yang cuma ingin diterima oleh dunia, oleh orangtuanya, dan mungkin, oleh dirinya sendiri. Tentang mereka yang tetap bertahan, meski tidak ada jaminan apa pun di akhir cerita.

In-Seong, tokoh utamanya, merupakan representasi kebanyakan manusia, medioker. Tapi justru itu yang membuatnya mudah relate dengan kehidupan kita. Dia gagal, bingung, takut, dan seringkali tidak tahu harus bagaimana. Tapi ia mencoba. Berkali-kali. Dan dari usahanya yang canggung itu, kita bisa belajar bahwa menjadi manusia yang baik bukan soal tahu segalanya, atau yang paling beruntung, tapi soal tetap bertahan dan berjuang meski tidak punya apa-apa.

Dari semua hal, satu pelajaran paling membekas buatku adalah ini:
siapa pun bisa jadi sesuatu, kalau punya kemauan yang kuat dan mentor yang tepat.

In-Seong bukan siapa-siapa. Bukan anak konglomerat. Bukan lulusan sekolah bisnis. Bukan orang yang pernah atau tahu caranya memimpin perusahaan, apalagi sekelas perusahaan teknologi ternama. Tapi ia punya kemauan untuk belajar dan keinginan untuk bertahan hidup, bahkan ketika dunia terasa tidak pernah memberinya ruang.

Di sisi lain, Seon-Ju sang CEO yang menghilang, lalu ngaku kalau jiwanya terperangkap di smartphone, mau menjadi mentornya. Awalnya, In-Seong sangat bergantung pada arahan dan saran Seon-Ju, secara dia yang bukan siapa-siapa ini langsung meroket menjabat jabatan tertinggi di perusahaan besar. Tapi lambat laun, dia mulai gigih belajar. Tentang keuangan, risiko, kepemimpinan. Tentang tanggung jawab dan pengaruh. Tentang bagaimana rasanya berdiri di tengah ruangan, selalu diperhatikan gerak gerik dan responnya oleh orang-orang yang meragukanmu, dan tetap memilih untuk berdiri.

Dan ketika akhirnya dia bisa mengambil keputusan sendiri, bahkan yang tidak sejalan dengan mentornya, di situ muncul pikiran: dia sudah jadi seseorang, aku ingin seperti dia. Bukan karena titipan, tapi karena pilihan. Bukan karena warisan, tapi karena perjalanan.

Bahkan ketika dia jatuh—dipecat secara tidak adil dalam rapat pemegang saham, yang datang membelanya bukan mentor atau kekuatan dari luar. Tapi orang-orang yang ia pimpin. Orang-orang yang menyaksikan bagaimana ia tumbuh. Mereka yang percaya, karena pernah merasakan kebaikannya secara langsung. Dan mungkin ini makna terdalam dari kepemimpinan. Bukan soal jabatan. Tapi tentang kepercayaan. Tentang bagaimana kita memilih untuk hadir dan bersikap semampunya, meski awalnya tak tahu harus mulai dari mana.

Dan mungkin, di tengah segala absurditas yang ditampilkan, series ini mengajak kita percaya satu hal penting: bahwa siapa pun bisa berubah dan bertumbuh.
Asal ada yang percaya, dan bersedia mencoba.

Love in Silence (2)

Some people arrive like seasons
Not all at once
But by the time you notice
You’ve already changed your clothes
Keeping something warm near your chest
Without knowing why

My gaze began to pause on someone
Perhaps when his eyes stopped looking ordinary
When his silence no longer felt empty
But like a place I wanted to linger
A little longer than I should’ve realized

Sometimes, we adore someone who speaks like poetry
Who knew how to break the world without a trace
Who believed in the unreturned kindness
As something that could last
But it turns out
Quietness can also feel like an answer
To questions you never found words for

I dreamed of a star the other night
Not a grand dream, just a gentle wonder
That never happened in the waking world
With a smile I kept to myself
Unsure where it belonged

I’ll see you again, soon
On a day that’s supposed to be ordinary
My heart has been nesting its hopes
Since that day
Carrying wishes that were never invited
Alongside fears with no place to rest
Even if the world offers no space for this
Even if logic and invisible walls stand firm
All whisper it’s better to let go
And yet I still hold, a quiet possibility

It’s not a feeling asking to be claimed
Not even a wound begging to be healed
It’s simply a soft devotion
That wants to stay
In a place that demands nothing
Yet wishes everything
But the chance to exist

To Remain

Ada nama yang lama tak diucap, tapi tak pernah benar-benar hilang dari kepala.
Ia tinggal di sela-sela doa yang tak bersuara.
Di pagi yang terasa kosong meski matahari menyapa.

Ada wajah yang samar dalam ingatan, tapi jelas dalam perasaan.
Tak kuingat nadanya, tapi rindunya menetap.
Tak kuingat genggamannya, tapi bayangnya tak pernah lenyap.

Kadang kita terlalu sibuk untuk melupakan.
Seolah kenangan adalah beban yang harus dibuang.
Padahal, ada cinta yang justru tak pernah berhenti tumbuh dalam diam.

Dan hari ini, seperti hari-hari lainnya.
Aku biarkan angin membawa satu nama yang tak disebut, tapi tak pernah benar-benar pergi.

The Tale of Lady Ok (Part 1)

Title: The Tale of Lady Ok (English title)
Revised romanization: Okshibooinjeon
Hangul: 옥씨부인전
Director: Jin Hyeok
Writer: Park Ji-Sook
Network: JTBC
Episodes: 16
Release Date: November 30, 2024 – January 26, 2025
Runtime: Saturday & Sunday 22:30
Language: Korean
Country: South Korea
Main Actor: Lim Ji-Yeon, Choo Yeong-Woo

Ini merupakan kisah yang menceritakan Episode 1-7. Di suatu masa di Kerajaan Joseon, terdapat sebuah daerah bernama Hanyang. Di sana, hiduplah seorang gadis bernama Gudok, seorang pelayan di kediaman keluarga Kim. Majikannya, Lady Kim, adalah seorang wanita muda bangsawan yang memperlakukan para pelayannya dengan semena-mena. Bentakan dan hukuman keras adalah hal biasa di rumah itu.

Sebagai seorang wanita bangsawan, seharusnya Lady Kim memiliki berbagai keterampilan seperti membaca, menulis, dan menyulam. Namun, ia lebih memilih untuk menyerahkan semua tugas itu pada Gudok. Gudok yang cerdas dan berbakat mengerjakan semuanya: membaca buku untuk Lady Kim, menyulam atas namanya, bahkan menulis surat dan mengerjakan tugas-tugas akademiknya. Keahliannya membuatnya terkenal di kalangan para bangsawan muda, meskipun ia hanyalah seorang pelayan.

Namun, Lady Kim juga mengekang Gudok. Ia tidak mengizinkannya keluar dari rumah, seolah-olah Gudok adalah miliknya sepenuhnya. Padahal, Gudok membutuhkan uang. Beberapa tahun sebelumnya, ibunya diusir dari rumah keluarga Kim saat sedang sakit dan akhirnya meninggal dunia. Gudok tak ingin kejadian yang sama menimpa ayahnya. Maka, diam-diam, ia mencari pekerjaan tambahan di luar. Namun, jika ketahuan oleh Lady Kim, ia akan dihukum tanpa ampun. Karena itu, setiap kali berada di luar rumah, Gudok selalu waspada dan siap bersembunyi jika melihat Lady Kim.

Suatu hari, Gudok menyamar sebagai laki-laki dan berjualan kacang di pasar. Saat itu, ada pertunjukan dongeng yang menarik banyak orang. Di sanalah Gudok bertemu dengan Tuan Muda Song, seorang bangsawan muda dari keluarga Song, yang datang bersama pelayannya—yang ternyata adalah kenalan Gudok.

Tuan Muda Song bukan bangsawan biasa. Ia seorang seniman dan penulis cerita fiksi yang terkenal, meskipun selalu menggunakan nama samaran. Dalam percakapan mereka, Gudok mengungkapkan bahwa ia adalah pelayan keluarga Kim. Tuan Muda Song tahu bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Lady Kim, tetapi ia juga mendengar banyak rumor tentang calon tunangannya itu—bahwa Lady Kim tidak memiliki keahlian apa pun, karena semua keterampilan dan kecerdasannya berasal dari pelayannya. Saat berbicara dengan Gudok, Tuan Muda Song terpesona. Ia kagum pada kecerdasan dan cara berpikir Gudok yang tajam, sesuatu yang jarang ia temukan di kalangan wanita manapun. Dari percakapan itu, ia mendapat inspirasi untuk menulis kisah fiksi baru—sebuah cerita yang menggambarkan hubungan mereka berdua.

Beberapa hari kemudian, saat sedang bekerja di luar, Gudok melihat Lady Kim dari kejauhan. Panik, ia berlari dan mencari tempat bersembunyi. Tanpa sadar, ia masuk ke kediaman pribadi Tuan Muda Song. Namun, ternyata Lady Kim datang ke tempat itu juga—untuk menemui calon tunangannya. Saat berbicara, Tuan Muda Song dengan tegas menyatakan bahwa ia menolak perjodohan mereka. Ia tak ingin menikahi Lady Kim yang terkenal tidak memperlakukan orang lain dengan baik. Lady Kim mengira bahwa Tuan Muda Song pasti telah mencintai wanita lain sehingga ia menolaknya.

Gudok yang mendengar pernyataan itu terkejut—dan tanpa sengaja menjatuhkan sesuatu. Suara itu menarik perhatian Lady Kim. Lady Kim mencari sumber suara dan menemukan Gudok bersembunyi di sana. Amarahnya meledak. “Beraninya kau berada di luar rumahku?! Beraninya kau berada di kediaman calon tunanganku?!” Lady Kim segera membawa Gudok pulang dan melaporkannya pada Tuan Besar Kim, kepala keluarga mereka.

Sebagai hukuman, Gudok dan ayahnya dipukul dan dihukum keras. Gudok akan dimaafkan jika bersedia tidur dengan Tuan Besar Kim. Namun, di tengah situasi itu, Gudok menyadari sesuatu: ini adalah kesempatan untuk melarikan diri. Malam itu, saat semua orang lengah, Gudok mengambil keputusan besar. Ia masuk ke kamar Tuan Besar Song dan berkelahi hebat dengannya hingga Tuan Besar tewas. Bersama ayahnya, ia melarikan diri dari rumah keluarga Kim, berlari ke dalam kegelapan malam, meninggalkan kehidupan lama mereka—dan memulai perjalanan menuju kebebasan.

Di tengah perjalanan pelariannya, Gudok dan ayahnya menemukan sebuah penginapan sederhana di pinggir kota. Mereka memutuskan untuk bermalam di sana, berharap bisa beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih aman. Penginapan itu dimiliki oleh seorang wanita tua yang ramah, yang biasa dipanggil Bibi. Namun, kondisi ayah Gudok semakin memburuk. Pukulan yang diterimanya dari Tuan Besar Kim telah membuat tubuhnya melemah. Ia merasa menjadi beban bagi putrinya. Malam itu, saat Gudok tertidur, ayahnya pergi diam-diam dari penginapan. Keesokan paginya, Gudok bangun dan mendapati ayahnya tidak ada. Panik, ia mencari ke seluruh area penginapan, tetapi tidak menemukan jejaknya. Dalam keputusasaan, ia meminta kepada Bibi untuk tinggal di penginapan dan bekerja di sana, setidaknya sampai ayahnya kembali.

Sementara itu, berita tentang kematian Tuan Besar Kim telah menyebar luas di Hanyang. Gudok menjadi buronan. Namun, dengan kecerdasannya, ia berhasil beradaptasi di penginapan Bibi, menyembunyikan identitasnya, dan hidup dengan tenang selama setahun.

Suatu hari, penginapan itu kedatangan tamu dari keluarga Ok, salah satu keluarga bangsawan daerah sebelah yang sudah lama tidak kembali ke wilayah asal mereka. Berbeda dengan keluarga bangsawan lainnya, keluarga Ok dikenal memiliki pandangan yang lebih terbuka. Salah satu anggota keluarga itu adalah Lady Ok, seorang wanita muda yang memperlakukan para pelayan dengan hormat dan memandang mereka sebagai manusia yang setara.

Sejak pertama kali melihat Gudok, Lady Ok merasa ada sesuatu yang berbeda darinya. Mereka tampak sebaya, dan Lady Ok dengan ramah mengajak Gudok berbicara. Namun, Gudok awalnya bersikap dingin, merasa tidak pantas berteman dengan seorang bangsawan. Baginya, perbedaan status adalah jurang yang tak bisa dijembatani.

Namun, ketulusan Lady Ok perlahan-lahan mencairkan hati Gudok. Ia mendengar bagaimana Lady Ok memperlakukan orang lain dengan penuh kebaikan, tanpa memandang status. Akhirnya, Gudok pun mengungkapkan identitas aslinya—bahwa ia adalah pelayan yang melarikan diri dan buronan dari Hanyang. Alih-alih menjauh, Lady Ok justru semakin bersimpati dan bersikap hangat padanya.

Di hari terakhir keluarga Ok menginap, Lady Ok mengajukan permintaan besar kepada ayahnya, Tuan Besar Ok. Ia ingin menjadikan Gudok sebagai saudara angkatnya dan membawanya ke rumah keluarga Ok. Sebagai tanda penerimaan, Lady Ok memberikan Gudok pakaian seorang bangsawan dan sebuah cincin pusaka keluarga Ok, yang diwariskan dari neneknya.

Namun, di malam terakhir sebelum keberangkatan mereka, kejadian mengerikan terjadi. Sekelompok perampok menyerbu penginapan dengan niat menjarah barang-barang milik keluarga bangsawan. Para pelayan dan anggota keluarga Ok mencoba melawan, tetapi pertarungan sengit tak terhindarkan. Dalam kekacauan itu, Tuan Besar Ok dan Bibi pemilik penginapan tewas terbunuh. Melihat keadaan semakin berbahaya, Gudok dan Lady Ok berusaha melarikan diri. Namun, mereka terjebak di sebuah ruangan saat para perampok membakar penginapan. Asap tebal memenuhi ruangan, dan api dengan cepat menyebar. Dalam kepanikan, mereka mencoba mencari jalan keluar.

Di tengah kobaran api, Gudok berhasil menemukan celah untuk melarikan diri. Namun, sebelum api kian menyebar, Lady Ok mendorong Gudok agar bisa keluar sepenuhnya, karena kakinya telah cedera. Setelah itu ia kehilangan kesadaran. Saat ia pingsan, para tentara yang tiba di tempat kejadian menemukan tubuhnya yang masih bernafas di antara tubuh lain yang kaku. Mereka melihat cincin di jarinya—cincin yang diberikan oleh Lady Ok hanya beberapa jam sebelumnya. Karena mengenali lambang keluarga Ok di cincin itu, mereka mengira Gudok adalah anggota keluarga Ok yang selamat. Gudok diselamatkan dan dibawa kembali ke kediaman keluarga Ok.

Ketika ia akhirnya terbangun, ia tidak lagi berada di penginapan yang terbakar. Ia mendapati dirinya berbaring di sebuah kamar mewah milik bangsawan. Sejumlah pelayan berdiri di sekelilingnya, dan di antara mereka, seorang wanita paruh baya yang mengenakan pakaian elegan menatapnya dengan penuh perhatian. Gudok yang selama ini hidup sebagai pelayan kini dihadapkan pada takdir yang tak pernah ia bayangkan—hidup sebagai bagian dari keluarga bangsawan.

Meskipun Gudok telah selamat dan kini berada di kediaman keluarga Ok, satu hal masih mengganjal: mereka tidak sadar kalau Lady nya berbeda? Ternyata, keluarga Ok sudah bertahun-tahun tidak kembali ke rumah utama mereka. Setidaknya sepuluh tahun berlalu sejak terakhir kali Lady Ok dan keluarganya menginjakkan kaki di tempat ini. Akibatnya, para pelayan dan bahkan Nyonya Besar Ok  mengira bahwa Gudok adalah Lady Ok yang akhirnya kembali. Saat Gudok mulai sadar, para pelayan menyambutnya dengan hormat, meyakini bahwa Lady Ok akhirnya pulang setelah sekian lama. Bahkan Nyonya Besar Ok, yang sebenarnya adalah nenek dari Lady Ok, langsung mendekatinya dengan mata berkaca-kaca, penuh kerinduan.

Namun, Gudok tidak ingin terus berbohong. Ketika memiliki kesempatan untuk berbicara empat mata dengan Nyonya Ok, ia mengungkapkan kebenaran yang sesungguhnya. Ia menjelaskan bahwa ia bukan Lady Ok, melainkan seorang pelayan dari Hanyang yang sedang melarikan diri. Dengan jujur, Gudok menceritakan bagaimana ia bertemu dengan keluarga Ok di penginapan, bagaimana Lady Ok ingin mengangkatnya sebagai saudara, dan bagaimana perampokan malam itu merenggut nyawa seluruh keluarga Ok. Mendengar hal itu, Nyonya Ok terdiam lama. Kesedihan jelas tergambar di wajahnya, tetapi alih-alih mengusir Gudok, ia justru menatapnya dengan penuh pemikiran. Ketika Gudok melanjutkan bahwa ia juga melihat wajah para perampok dan bisa menjadi saksi, Nyonya Ok akhirnya berkata, “Kalau begitu, sampai mereka tertangkap, kau akan tetap menjadi Lady Ok.”

Maka, dengan identitas barunya sebagai Lady Ok, Gudok menemani Nyonya Ok ke hadapan hakim daerah untuk memberikan kesaksian. Pengejaran pun dilakukan, dan tak lama kemudian, para perampok berhasil ditangkap. Saat melihat Gudok di pengadilan, mereka terkejut—mereka tahu bahwa Lady Ok seharusnya sudah meninggal di penginapan yang terbakar.

Dengan tugasnya yang selesai, Gudok merasa waktunya untuk pergi telah tiba. Ia tak ingin terus menipu keluarga Ok. Meskipun keluarga itu kini hanya terdiri dari Nyonya Ok dan seorang kakak laki-laki Lady Ok, Gudok merasa bahwa perannya sudah berakhir. Kakak laki-laki Lady Ok sendiri lebih memilih hidup sederhana di desa, menjauh dari kehidupan bangsawan, sehingga keluarga Ok kini hanya bergantung pada sang nenek. Namun, Nyonya Ok berpikir lain. Ia telah melihat kecerdasan dan bakat Gudok, dan lebih dari itu, ia sadar bahwa keluarga Ok membutuhkan penerus. Dengan suara yang penuh keyakinan, ia berkata, “Kau akan terus menjadi Lady Ok. Kau harus menjalankan peran ini dengan sempurna.”

Keputusan ini tidak mudah, tetapi Gudok tahu bahwa Lady Ok adalah sosok yang luar biasa. Saat mereka menghabiskan waktu di penginapan, Lady Ok sering menceritakan mimpinya menjadi seorang advokat hukum, bagaimana ia ingin memperjuangkan hak-hak rakyat kecil, dan bagaimana ia selalu memperlakukan para pelayan dengan baik. Lady Ok bahkan pernah menyebutkan hadiah-hadiah yang telah ia siapkan untuk para pelayan tertentu, menyebutkan ciri-ciri mereka, serta kenangan kecil yang membuat mereka bahagia. Gudok mengingat semuanya. Dan berkat ingatan tajamnya, para pelayan di kediaman Ok tidak pernah menyadari bahwa Lady Ok yang kembali bukanlah orang yang sama, kecuali Maksim, sang kepala pelayan, yang diberi tahu oleh Nyonya Ok.

Dua tahun berlalu. Kini, Gudok telah sepenuhnya menjadi Lady Ok—setidaknya di mata dunia. Identitasnya sebagai Gudok telah terkubur dalam-dalam, dan kehidupan barunya adalah sebagai seorang Lady bangsawan.

Suatu hari, di daerah tempat keluarga Ok tinggal, banyak orang berbondong-bondong ingin menonton pertunjukan seorang pendongeng terkenal bernama Chon. Pada awalnya, Lady Ok tidak terlalu tertarik. Namun, para pelayannya begitu antusias, terutama karena cerita yang sering dibawakan Pendongeng Chon selalu bertema romansa antara seorang bangsawan dan pelayan. Saat mendengar cerita itu, Lady Ok mulai tertarik—cerita itu terlalu mirip dengan pengalaman pribadinya. Ia pun bertanya-tanya, mungkinkah pendongeng ini sebenarnya Tuan Muda Song? Namun, jika benar, mengapa namanya sekarang adalah Pendongeng Chon?

Pendongeng Chon terkenal karena kemampuannya menggabungkan tari, seni peran, dan cerita dongeng dalam pertunjukannya. Akhirnya, Lady Ok memutuskan untuk ikut menonton bersama pelayannya. Saat pertunjukan dimulai, Lady Ok langsung mengenali sosok yang berdiri di atas panggung—Tuan Muda Song. Dan saat mata mereka bertemu, Tuan Muda Song pun mengenalinya. Namun, sebelum Tuan Muda Song sempat melakukan sesuatu, Lady Ok dengan cepat meninggalkan tempat pertunjukan.

Tuan Muda Song tidak tinggal diam. Ia segera mencari tahu tentang Lady Ok dan meminta pelayannya untuk menghubungi pelayan keluarga Ok. Setelah berbagai upaya, akhirnya mereka berhasil bertemu kembali.

Singkat cerita, keduanya mengetahui perjalanan hidup mereka selama tiga tahun terakhir. Ternyata, takdir mereka telah bertukar posisi. Gudok, yang dulu seorang pelayan, kini hidup sebagai bangsawan dan dikenal sebagai Lady Ok. Sementara itu, Tuan Muda Song yang dulu seorang bangsawan, kini telah kehilangan statusnya. Setelah menolak pernikahan dengan Lady Kim, Tuan Muda Song terinspirasi oleh percakapannya dengan Gudok. Ia menyadari bahwa seni dan pertunjukan adalah salah satu cara bagi rakyat jelata untuk melupakan penderitaan mereka, meski hanya sesaat. Karena itu, ia memutuskan untuk mendalami seni pertunjukan. Ia mempelajari berbagai keterampilan seperti mendongeng, bercerita, menari, hingga tari pedang, berkeliling Joseon sebagai seorang seniman.

Namun, keputusannya itu membuat Tuan Besar Song murka. Tak menerima kenyataan bahwa anak sulungnya lebih memilih seni daripada reputasi keluarga, ia mengusirnya dari rumah. Sejak saat itu, Tuan Muda Song bukan lagi seorang bangsawan, melainkan seorang seniman jalanan yang dikenal sebagai Pendongeng Chon.

Melalui pertemuan kembali mereka, Tuan Muda Song akhirnya mengungkapkan perasaannya. Ia jatuh cinta pada Gudok sejak pertama kali mereka bertemu di pasar—ketika Gudok masih menjadi seorang pelayan. Namun, Lady Ok tidak bisa menerima perasaan itu. Bukan karena ia tidak menyukainya, tetapi karena ia kini berada dalam posisi yang lebih rumit dari sebelumnya. Di satu sisi, ia adalah buronan—pelayan yang melarikan diri dari Lady Kim. Di sisi lain, ia bukan Lady Ok yang sebenarnya.  Dengan berat hati, Lady Ok menolak.

Padahal, Tuan Muda Song tidak pernah berhenti mencari Gudok selama tiga tahun terakhir. Ia tahu bahwa Gudok telah melarikan diri dan menjadi buronan, tetapi ia juga tahu satu hal—Gudok selalu bermimpi untuk hidup di tepi pantai bersama ayahnya. Karena itulah, ia berkelana ke seluruh penjuru Joseon sebagai pendongeng, berharap menemukan Gudok di suatu tempat, menjalani kehidupan impiannya.

Suatu hari, setelah dua tahun menjalani kehidupan sebagai Lady Ok, ia pergi ke pasar. Dari kejauhan, matanya menangkap sosok yang begitu familiar—Lady Kim, masih ditemani beberapa tentara bayaran. Bahkan setelah tiga tahun berlalu sejak Gudok melarikan diri dari Hanyang, Lady Kim masih terus memburunya.

Di lain hari, sebuah tragedi terjadi di kediaman keluarga Ok. Pelayan terdekat Lady Ok ditemukan meninggal dalam kondisi tergantung di suatu pohon di hutan. Namun, Lady Ok tidak percaya bahwa pelayannya mengakhiri hidupnya sendiri. la mengenal pelayannya dengan baik, tidak mungkin ia melakukan hal itu tanpa alasan yang jelas. Dalam penyelidikan awal, diketahui bahwa pelayan tersebut menarik perhatian seorang Tuan Muda dari keluarga Baek. Maksim, kepala pelayan keluarga Ok sekaligus ibu dari pelayan tersebut, mencurigai bahwa putrinya menjadi korban dari keluarga Baek. Dalam amarahnya, Maksim mendatangi kediaman keluarga Baek dan menuduh mereka sebagai dalang di balik kematian putrinya. Namun, tindakannya itu membawa masalah besar.

Di wilayah tempat keluarga Ok tinggal, terdapat sebuah perkumpulan bangsawan elit yang disebut Yuhyangso Group yaitu kelompok yang beranggotakan para bangsawan kelas atas yang memiliki pengaruh besar. Mereka terkenal semena-mena dengan para pelayan. Hanya keluarga Ok dan keluarga Hakim Daerah Sung yang tidak berlaku seperti itu.

Maksim hampir mendapat hukuman berat karena menuduh seorang bangsawan tanpa bukti. Lady Ok, untuk pertama kalinya, muncul di hadapan Yuhyangso Group dan membela Maksim dengan berani. Biasanya, yang tampil mewakili keluarga Ok adalah ayahnya, Tuan Besar Ok, tetapi kali ini, Lady Ok maju sendiri untuk melindungi bawahannya.

Kasus ini akhirnya sampai ke tangan Hakim Daerah Sung. Maksim ditahan dan akan diadili atas tuduhan mencemarkan nama baik keluarga Baek. Tidak tinggal diam, Lady Ok diam-diam menyusup ke tempat penahanan Maksim untuk membawakan makanan. Saat itu, ia bertemu dengan seorang prajurit yang wajahnya sangat mirip dengan Pendongeng Chon. Kaget, Lady Ok sontak memanggilnya sebagai Pendongeng Chon, tetapi prajurit itu tampak bingung dan segera membantah. Ia bukan Pendongeng Chon, melainkan Tuan Muda Sung, putra Hakim Daerah Sung.

Beberapa saat kemudian, sekelompok orang yang terlibat dalam insiden penginapan Bibi mengenali Lady Ok di jalanan dan berusaha mengikutinya. Namun, Tuan Muda Sung melihat kejadian itu dan segera menolongnya. Saat melihat cara bertarungnya, Lady Ok menyadari sesuatu, dia ingat bahwa Pendongeng Chon tidak memiliki keahlian bela diri. Baru pada saat itu ia yakin bahwa Tuan Muda Sung dan Pendongeng Chon memang dua orang yang berbeda, meskipun wajah mereka sangat mirip.

Tuan Muda Sung akhirnya mengetahui bahwa Lady Ok memiliki seorang kenalan yang wajahnya sangat mirip dengannya. Dalam percakapan mereka selanjutnya, Tuan Muda Sung menyarankan agar Lady Ok mendalami hukum dan menjadi advokat, agar ia bisa membela Maksim di pengadilan dengan cara yang benar. la bahkan memberi Lady Ok akses ke perpustakaan keluarganya yang dipenuhi buku-buku hukum. Lady Ok, dengan kecerdasannya, segera menyusun pembelaan yang kuat untuk Maksim. Bersama Tuan Muda Sung, ia juga berhasil bertemu dengan Tuan Muda Baek untuk memberitahunya bahwa pelayan keluarga Ok sebenarnya memiliki perasaan terhadapnya, meskipun selama ini ia tampak mengabaikan perhatiannya.

Sayangnya, keluarga Baek tetap tidak mengakui kesalahan mereka. Tidak ada bukti atau saksi yang cukup untuk menyalahkan mereka, dan Maksim hampir dijatuhi hukuman atas tuduhan mencemarkan nama baik bangsawan. Namun, di saat-saat terakhir, Tuan Muda Baek mengaku bertanggung jawab atas kejadian itu, meskipun sebenarnya ia tidak terlibat langsung. Pelayan keluarga Baek, atas perintah langsung dari Nyonya Baek, adalah pihak yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Dengan pengakuan itu, keluarga Baek dihukum berat. Mereka diasingkan ke negeri yang jauh, seluruh harta mereka disita, dan gelar bangsawan mereka dicabut.
Itu adalah kemenangan pertama Lady Ok sebagai advokat hukum.

Setelah kasus itu berlalu, muncul tantangan baru bagi Lady Ok. Kerajaan sedang dilanda kekeringan panjang, dan sebagai bentuk doa kepada dewa kepercayaan mereka, raja mengeluarkan titah pernikahan bagi semua keluarga bangsawan yang telah cukup umur. Menurut keyakinan raja, kasih sayang yang tulus dapat menarik perhatian dewa dan membawa hujan kembali. Titah ini tentu saja mencakup keluarga Ok—termasuk Lady Ok.

Hakim Daerah Sung dan Tuan Muda Sung, yang terkesan dengan keberanian dan kecerdasan Lady Ok, meminta agar ia menjadi menantu keluarga mereka. Lady Ok bimbang. Bagaimanapun juga, ia bukanlah Lady Ok yang sebenarnya. Namun, Nenek Ok mendukung pernikahan ini sepenuhnya dan berkata, “Jika ada masalah di kemudian hari, biarkan nenek yang menanggung segalanya.”

Akhirnya, Lady Ok berbicara langsung dengan Tuan Muda Sung dan mengungkapkan bahwa ada rahasia yang ingin ia tutupi, yang membuatnya keberatan dengan pernikahan ini. Namun, Tuan Muda Sung memiliki tawaran lain. “Kalau begitu, mari kita bertukar rahasia. Jika kita saling mengetahui kebenaran masing-masing, kau akan tahu bahwa bersamaku adalah jalan terbaik.”

Lady Ok menerima tawaran itu, dan mereka akhirnya bertukar rahasia. Rahasia yang disimpan Tuan Muda Sung ternyata lebih besar dari yang Lady Ok bayangkan. Ia memiliki alasan pribadi yang membuatnya tidak tertarik pada pernikahan romantis. Dengan memahami rahasia satu sama lain, Lady Ok akhirnya setuju untuk menikah dengannya. Pernikahan mereka adalah penyatuan dua individu yang saling memahami, tanpa tekanan atau tuntutan yang tidak mereka inginkan. Setelah menikah, mereka tetap menjalani kehidupan masing-masing. Lady Ok menekuni dunia advokat hukum dengan dukungan penuh dari mertuanya, Hakim Daerah Sung. Sebagai seorang wanita yang kini memiliki status dan pengaruh, ia siap memperjuangkan keadilan di Joseon.

Pendongeng Chon dan pelayannya turut menghadiri pernikahan Lady Ok dan Tuan Muda Sung dari kejauhan. Saat melihat kedua mempelai, mereka berdua terkejut—Tuan Muda Sung memiliki wajah yang hampir identik dengan Pendongeng Chon, seolah-olah mereka adalah saudara kembar. Dari kejadian itu, Pendongeng Chon dan pelayannya mulai berasumsi bahwa Lady Ok memilih menikah dengan Tuan Muda Sung karena kemiripannya dengannya. Setelah menyaksikan pernikahan tersebut, Pendongeng Chon dan pelayannya meninggalkan daerah itu, melanjutkan perjalanan mereka ke wilayah lain.

Beberapa waktu setelah pernikahan, Lady Ok tidak sengaja melihat tanda berbentuk tato di bahu suaminya. Penasaran, ia bertanya kepada Tuan Muda Sung tentang makna tato itu, tetapi suaminya hanya tersenyum dan berkata bahwa ia akan menjelaskan di lain waktu.

Bersamaan dengan itu, Lady Ok dan Hakim Daerah Sung terlibat dalam penyelidikan kasus penculikan dan perdagangan anak-anak yang semakin marak di wilayah mereka. Dalam sebuah perjalanan untuk menyelidiki kasus tersebut, mereka diserang oleh sekelompok bandit. Ketika mereka hampir terdesak, seorang pria berpakaian hitam dan bermasker tiba-tiba muncul untuk menolong mereka. Ia bertarung dengan cekatan, mengalahkan para bandit satu per satu. Di tengah pertarungan, masker pria itu tersingkap sesaat. Mata Lady Ok dan pria itu bertemu—dan ternyata ia adalah Tuan Muda Sung, suaminya. Namun, sebelum Hakim Daerah Sung bisa melihatnya, pria itu segera melarikan diri setelah memastikan mereka aman.

Malam itu, Lady Ok akhirnya menghadapkan suaminya dengan pertanyaannya. Setelah menunda cukup lama, Tuan Muda Sung akhirnya mengungkapkan rahasianya. Ia adalah pemimpin dari sebuah kelompok bernama Heart. Organisasi ini bukan kelompok pemberontak, melainkan tempat perlindungan bagi anak-anak yang ditelantarkan atau diasingkan oleh masyarakat.

Organisasi Heart menampung anak-anak yang sering mengalami perlakuan buruk—entah karena kondisi ekonomi, fisik, atau sekadar karena mereka berbeda dari yang lain. Di sana, mereka diberi makan, tempat tinggal, pendidikan, hingga pelatihan bela diri agar mereka bisa melindungi diri sendiri.

Namun, pemerintahan saat itu berada di bawah kekuasaan raja yang naik takhta melalui kudeta. Karena takut akan ancaman dari kelompok-kelompok di luar kendali kerajaan, raja melarang segala bentuk perkumpulan atau organisasi, kecuali yang diakui secara resmi oleh kerajaan. Oleh karena itu, organisasi Heart harus beroperasi secara rahasia.

Beberapa hari setelah itu, Lady Ok mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi markas organisasi Heart. Ia melihat sendiri bahwa kehidupan anak-anak di sana tidak berbeda dengan anak-anak biasa.

Sementara itu, penyelidikan mengenai perdagangan anak-anak masih berlanjut. Sayangnya, Lady Ok dan Hakim Daerah Sung hanya berhasil menyelamatkan sebagian dari mereka, sementara sisanya berhasil dibawa kabur oleh para penculik. Dalam upayanya mencari keberadaan mereka, Lady Ok bertemu dengan seorang pelayan yang kerabatnya menjadi korban penculikan. Dari informasi yang dikumpulkannya, ia menemukan sebuah petunjuk penting—lokasi operasi penculik itu berada di sebuah gunung terdekat.

Ternyata, gunung tersebut menyimpan cadangan emas yang melimpah. Beberapa pejabat daerah telah berkolusi untuk membuat tambang emas ilegal di sana, termasuk keluarga Li dan keluarga Park. Karena operasi ini dilakukan tanpa izin kerajaan, mereka melindungi tambang itu dengan segala cara. Dukungan utama mereka berasal dari Menteri Pertahanan, seorang pejabat berpengaruh di istana kerajaan.

Ketika penyelidikan Lady Ok dan Hakim Daerah Sung semakin mendekati kebenaran, salah satu pejabat yang terlibat mulai panik. Namun, sebuah informasi kecil terungkap dari salah satu anak yang diculik. Anak itu tanpa sengaja menyebutkan bahwa ia seharusnya pergi ke suatu tempat bersama temannya, karena ia mendengar bahwa di sana ia akan diberi makan dan diajarkan bela diri. Para pejabat yang terlibat memanfaatkan informasi ini untuk membelokkan perhatian Hakim Daerah Sung. Mereka membuat tuduhan bahwa organisasi Heart bukanlah kelompok penyelamat, melainkan kelompok pengkhianat yang sedang mempersiapkan pemberontakan.

Tuan Besar Li, salah satu pejabat yang terlibat, langsung memimpin sekelompok prajurit untuk menyerbu markas Heart. Namun, ketika mereka tiba di sana, markas itu telah kosong. Satu-satunya orang yang tersisa adalah Tuan Muda Sung dan tangan kanannya, Higang. Tuan Muda Sung berhasil melarikan diri tanpa jejak. Namun, Higang tertangkap dan dibawa ke hadapan Hakim Daerah Sung dalam kondisi terluka.

Di pengadilan, terungkap bahwa Higang memiliki sebuah tato di bagian bahunya, yang menggambarkan lambang yang sama dengan yang ada di markas organisasi Heart. Para pejabat meyakini bahwa ini adalah tato keanggotaan dan memanfaatkan hal ini sebagai bukti bahwa organisasi Heart adalah kelompok pemberontak, sehingga Hakim Daerah Sung dipaksa untuk memprioritaskan penyelidikan atas dugaan pengkhianatan ini. Sebagai tindakan lanjutan, perintah dikeluarkan untuk menangkap semua anggota organisasi Heart. Para prajurit mulai memeriksa setiap lelaki dewasa dan anak laki-laki untuk mencari tanda tato yang sama.

Di tengah situasi yang semakin genting, Tuan Muda Sung yang telah melarikan diri kembali ke rumahnya untuk menemui Lady Ok. Hakim Daerah Sung tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan ingin memeriksa sendiri apakah anaknya memiliki tato tersebut dan terlibat dengan organisasi ini. Saat jubahnya tersingkap, tato itu terlihat jelas di bahunya. Hakim Daerah Sung terkejut dan marah. Apalagi setelah putranya itu mengaku kalau dia adalah ketua organisasi. Tanpa ragu, ia langsung menyuruhnya melarikan diri. Lady Ok berusaha membela suaminya, menjelaskan bahwa organisasi Heart bukanlah organisasi pemberontak, tetapi tempat perlindungan bagi anak-anak yang terlantar. Namun, aturan kerajaan tetap melarang keberadaan organisasi di luar kendali kerajaan.

Hakim Daerah Sung tidak punya pilihan lain. Ia tahu bahwa jika anaknya tertangkap, seluruh keluarganya akan ikut hancur. Dengan berat hati, ia mengusir Tuan Muda Sung dan bahkan meminta Lady Ok untuk meninggalkan keluarga mereka demi keselamatan dirinya sendiri. Tuan Muda Sung bergegas melarikan diri, tetapi sebelum pergi, ia berjanji kepada Lady Ok bahwa suatu hari nanti ia akan kembali, saat situasi telah berubah. Diantar oleh istrinya, Tuan Muda Ok bergegas menuju perahu yang sudah dia siapkan. Namun di tengah jalan, mereka bertemu dengan prajurit yang sedang razia. Lady Ok dan suaminya berlari untuk bersembunyi, hingga tidak sengaja masuk ke penginapan Pendongeng Chon dan pelayannya. Pendongeng Chon yang sudah kena razia sebelumnya, hanya bertanya, “Kau memiliki tato itu, ya?”, lalu selanjutnya bergegas berganti pakaian dengan Tuan Muda Sung dan keluar menghadapi prajurit yang sedang mencarinya. Dia selamat dari razia itu. Dengan begitu, dia berhasil kabur menggunakan perahu.

Tak lama setelah itu, utusan dari kerajaan tiba dengan perintah resmi. Hakim Daerah Sung dituduh melalaikan tugasnya karena gagal mendeteksi keberadaan organisasi Heart dan tidak mampu menangkap pemimpinnya. Sebagai hukuman, ia dicopot dari jabatannya, seluruh hartanya disita, dan ia kehilangan seluruh status kebangsawanannya. Akibat kejadian itu, Hakim Daerah Sung mengalami syok berat dan jatuh tersungkur. Nyawanya tidak dapat diselamatkan. Kini, Lady Ok hanya tinggal bersama adik iparnya. Seharusnya Lady Ok kini menyandang gelar baru—Nyonya Sung. Namun malangnya karena wanita itu menyaksikan keluarganya terpecah belah oleh sebuah sistem yang tidak bisa ia lawan… setidaknya, belum.

Berita tentang kemalangan yang menimpa keluarga Sung akhirnya sampai ke telinga Pendongeng Chon. Tanpa ragu, ia kembali menemui Lady Ok, kali ini bukan untuk mengajaknya hidup bersama, melainkan untuk menghiburnya dan menguatkan tekadnya agar berperan sebagai Lady Ok seutuhnya dan tidak goyah. Kondisi mental Lady Ok hancur karena kembali ditinggalkan oleh orang terdekatnya membuatnya murung dan tidak punya semangat hidup.

Sementara kondisi keluarga Sung semakin sulit. Seluruh aset mereka kini berada di tangan keluarga Li, salah satu keluarga bangsawan yang berkolusi dalam kasus tambang ilegal. Sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi mereka dalam Yuhyangso Group, keluarga Li bahkan menikahkan putra mereka dengan seorang bangsawan dari kelompok tersebut.

Yang lebih buruk, Maksim, kepala pelayan yang setia kepada keluarga Ok, kini berada di bawah kendali keluarga Li. Karena ia pernah berani menuduh keluarga Baek—anggota Yuhyangso Group—atas tindakan semena-mena, Maksim ditandai sebagai pelayan yang telah melanggar batas. Akibatnya, ia direncanakan untuk dijual di pasar budak. Mendengar hal itu, Lady Ok tidak tinggal diam. Ia datang ke kediaman keluarga Li, memohon bahkan berlutut di hadapan mereka, meminta agar Maksim diberikan kepadanya. “Jika Anda bersedia menyerahkan Maksim, aku berjanji akan membalas budi keluarga Li suatu hari nanti.”

Keteguhan dan keberanian Lady Ok membuat Nyonya Li tersentuh. Meskipun ia bagian dari Yuhyangso Group, Nyonya Li sebenarnya memiliki hati yang lembut. Ia juga tidak setuju dengan korupsi yang dilakukan suaminya, terutama dalam skandal tambang emas. Namun, ia tidak menyadari bahwa suaminya tetap melakukan kolusi di belakangnya.

Akhirnya, Nyonya Li setuju untuk menyerahkan Maksim kepada Lady Ok. Perlahan, Lady Ok mulai menyadari bahwa gunung tempat tambang ilegal itu menyimpan lebih banyak rahasia. Ia yakin bahwa kematian ayah mertuanya bukan sekadar kebetulan, tetapi bagian dari upaya untuk menghentikan penyelidikan terhadap gunung tersebut. Ia pun bertekad untuk mengungkap kebenaran—dan membersihkan nama keluarga Sung. Lady Ok meminta Pendongeng Chon untuk menemaninya dalam penyelidikan ini. Tanpa ragu, Pendongeng Chon menyetujuinya.

Sepanjang perjalanan, Pendongeng Chon kembali menyatakan perasaannya. Ia mengungkapkan impiannya—hidup sederhana bersama Lady Ok, jauh dari intrik dan politik bangsawan. “Aku bahkan rela kehilangan segalanya, asalkan bisa bersamamu,” katanya. Namun, sekali lagi, Lady Ok menolaknya. “Aku masih dalam ikatan pernikahan. Suamiku mungkin telah melarikan diri, tapi aku tetap istrinya, menantu keluarga Sung.”

Selain ditemani Pendongeng Chon, Lady Ok juga mendapat bantuan dari beberapa pelayannya dan kerabat mereka. Ia juga mengetahui bahwa Hakim Sung diam-diam telah menyelamatkan Higang dan mengirimnya ke sebuah kuil di kaki gunung, meskipun hingga kini Higang masih belum sadarkan diri.

Untuk memperkuat posisinya, Lady Ok juga menemui Gubernur Daerah dan menyampaikan dugaannya. Awalnya, gubernur tidak mempercayainya. Namun, ternyata diam-diam gubernur menyelidiki sendiri aktivitas ilegal di gunung itu.

Berita tentang penyelidikan yang dilakukan gubernur pun sampai ke telinga para pejabat korup. Mereka segera menghentikan sementara operasi tambang dan meningkatkan pengamanan di sekitar lokasi. Anak-anak yang sebelumnya dipaksa kerja kini dikurung di suatu gubuk dan dibiarkan tanpa makanan selama berhari-hari.

Saat hampir mencapai tambang, Lady Ok dan Pendongeng Chon bertemu dengan para prajurit penjaga. Mereka segera menyadari bahwa melawan mereka adalah pilihan yang mustahil—Pendongeng Chon bukan Tuan Muda Sung yang ahli berpedang dan bela diri. Mereka pun melarikan diri, hingga akhirnya terdesak di tepi tebing yang berhadapan langsung dengan laut.

Pendongeng Chon mengambil keputusan berani—lebih baik mereka melompat ke laut daripada tertangkap. Tanpa berpikir panjang, ia menarik Lady Ok dan mereka berdua terjun ke laut. Namun, Lady Ok tidak bisa berenang. Untungnya, Pendongeng Chon cukup mahir berenang. Ia segera membopong Lady Ok dan membawanya ke tempat yang aman.

Setelah selamat dari insiden itu, Lady Ok jatuh sakit. Demam tinggi membuatnya semakin lemah, dan ia harus dibawa oleh Pendongeng Chon. Di tengah malam, ketika kondisinya memburuk, mereka bertemu dengan sekelompok penduduk gunung. Pendongeng Chon awalnya mengira mereka adalah prajurit penjaga, tetapi ternyata mereka adalah warga biasa, beberapa di antaranya mantan pelayan keluarga Baek. Mereka mengenali Lady Ok dan segera memberikan bantuan. Ketika siuman, Lady Ok melihat Pendongeng Chon sedang menghibur warga dengan pertunjukan dongengnya. Sekali lagi, ia merasa terpesona. Jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa perasaannya terhadap Pendongeng Chon tidak benar-benar sirna.

Dengan bantuan warga gunung, Lady Ok merencanakan upaya penyelamatan anak-anak yang diculik. Saat mereka mencapai lokasi tambang, tempat itu tampak sepi. Namun, mereka menemukan banyak anak-anak di dalam gubuk terkunci yang ada di sekitar tambang. Ketika mereka mulai membebaskan anak-anak, prajurit penjaga muncul—rupanya mereka telah memprediksi bahwa Lady Ok akan kembali.

Pertempuran pun terjadi. Ketika mereka hampir terdesak, pasukan gubernur tiba dan menangkap para prajurit serta pejabat yang terlibat. Di antara pejabat yang tertangkap adalah Tuan Besar Park. Berita ini membuat Tuan Besar Li panik. Ia mencoba menghubungi Menteri Pertahanan untuk meminta bantuan, tetapi menteri itu memilih untuk lepas tangan.

Akhirnya, Tuan Besar Li memilih untuk menyerahkan diri kepada gubernur, dengan harapan bisa mendapat keringanan hukuman. Pengadilan pun digelar. Para pejabat dan prajurit yang tertangkap di lokasi tambang dijatuhi hukuman atas penculikan anak-anak, eksploitasi tenaga kerja, serta penambangan ilegal. Dengan mengakui keterlibatannya dalam korupsi tambang emas dan pengakuan Higang kalau organisasi Heart bukanlah organisasi pengkhianat, nama Hakim Sung dibersihkan—dan kehormatan keluarga Sung dipulihkan.

Namun, Lady Ok melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia tampil sebagai advokat hukum untuk membela keluarga Li di pengadilan, dan ia berhasil. Keluarga Li bebas dari hukuman. Keputusan Lady Ok membuat Tuan Besar Li terkejut dan marah. “Kenapa kau membelaku, Lady Ok? Kau juga tidak melaporkan aku atas perbuatanku yang lain. Aku telah bersekongkol untuk menjatuhkan ayah mertuamu. Aku pernah berusaha mencelakakanmu!”
Dengan tenang, Lady Ok menjawab, “Aku pernah berjanji bahwa aku akan membalas budi keluarga Li yang telah menyerahkan Maksim padaku.”

Namun Tuan Besar Li tetap tidak mengerti. Menurutnya, dengan tidak melaporkan perbuatannya, itu sudah membalas budi. Jadi tidak perlu membelanya. Dengan enteng, Lady Ok menjawab, “Aku juga sebenarnya tidak mau. Namun, ayah mertuaku mengajarkanku satu hal: di mata hukum, semua orang memiliki hak untuk dibela—termasuk mereka yang dianggap bersalah sekalipun.”

Mendengar itu, Tuan Besar Li akhirnya menyerahkan kembali harta dan pelayan keluarga Sung kepada Lady Ok. Kini, Lady Ok kembali ke rumah keluarga Sung bersama Maksim dan adik iparnya. Ia resmi menjadi Nyonya Besar Sung. Suaminya, yang tidak diketahui keberadaannya, tetap menyandang gelar Tuan Besar Sung, sementara adik iparnya kini menjadi Tuan Muda Sung. Setelah memutuskan untuk meninggalkan kisah romansa yang tak pernah terwujud dan berjanji tidak akan mengganggu kehidupan Nyonya Sung lagi, Pendongeng Chon akhirnya pergi ke negeri yang jauh, membawa serta kenangan yang tak bisa ia lupakan. Ia bahkan menulis sebuah buku fiksi berdasarkan kisah mereka di gunung, hingga perpisahan terakhir mereka. Namun, buku ini tidak pernah ia publikasikan—ia menyimpannya sebagai kenangan terakhirnya tentang Lady Ok. Agar ia tidak pernah lupa kisah mereka.

Waktu berlalu. Tujuh tahun kemudian, kehidupan di keluarga Sung telah banyak berubah. Tuan Muda Sung kini telah dewasa. Ia bukan lagi anak laki-laki yang dulu dibesarkan oleh Nyonya Sung, melainkan seorang pria cerdas dan berwibawa. Dengan kepintarannya, ia berhasil lulus ujian kenegaraan dengan skor tertinggi, menjadikannya salah satu pejabat muda paling berpengaruh di wilayahnya.

Sebagai pria muda yang tampan dan berbakat, Tuan Muda Sung menjadi idola di kalangan para Lady bangsawan. Namun, meski dikelilingi banyak wanita yang mengaguminya, hatinya tidak pernah berpaling—karena satu-satunya sosok yang ia pedulikan adalah kakak iparnya, Nyonya Sung alias Lady Ok.

Sementara itu, Tuan Besar Sung masih belum kembali. Tidak ada kabar tentang keberadaannya, apakah ia masih hidup atau sudah tiada. Di sisi lain, Pendongeng Chon, meskipun telah pergi jauh, tidak pernah benar-benar melupakan Nyonya Sung. Ia sering mengenang Nyonya Sung dengan membaca kembali bukunya, yang tidak ia terbitkan.

Sementara itu, Nyonya Sung telah menjadi advokat hukum yang paling dihormati di daerahnya. Bersama Maksim, ia berusaha mencarikan jodoh untuk Tuan Muda Sung yang telah cukup umur untuk menikah.

Namun, ada satu masalah—Tuan Muda Sung hanya menginginkan wanita yang mirip dengan Nyonya Sung. “Aku ingin seseorang yang pintar, pemberani, dan secantik Kakak Ipar,” katanya setiap kali ditanya.

Di saat yang sama, keluarga Baek yang dulu diasingkan ternyata masih menyimpan dendam terhadap Nyonya Sung. Mereka merencanakan balas dendam dengan cara yang halus tetapi berbahaya. Anak bungsu mereka yang cantik dikirim untuk diadopsi oleh keluarga Cha, sebuah keluarga bangsawan terhormat, agar ia dapat dilatih menjadi wanita bangsawan sejati.

Dengan identitas baru sebagai Lady Cha, ia mendalami ilmu hukum dan berusaha mendekati Nyonya Sung dan Tuan Muda Sung. Ia bahkan melamar sebagai asisten advokat hukum Nyonya Sung. Lebih dari itu, Lady Cha menyadari bahwa Tuan Muda Sung hanya memperhatikan Nyonya Sung. Maka, ia berusaha meniru karakter Nyonya Sung—menjadi sosok yang cerdas, berani, dan anggun. Rencananya berhasil. Tuan Muda Sung jatuh hati padanya. Akhirnya, Tuan Muda Sung melamar Lady Cha, dan Nyonya Sung menyetujuinya. Setelah melalui berbagai proses, mereka akhirnya menikah.

Di saat yang sama, di negeri tempat Pendongeng Chon berada, sebuah insiden terjadi. Buku fiksi yang ia simpan sebagai kenangan pribadinya telah dicuri. Lebih buruk lagi, buku itu di plagiat oleh seorang penulis lain, yang menambahkan unsur-unsur yang tidak senonoh dan vulgar di dalamnya, lalu mengklaim bahwa itu adalah hasil karyanya sendiri.

Ketika Pendongeng Chon mengetahui hal ini, ia marah besar. Namun, saat ia mengamuk dan menuduh penulis itu di depan umum, ia justru ditangkap atas tuduhan pencemaran nama baik. Karena tidak bisa menerima tuduhan itu, namun juga tidak bisa membela diri, akhirnya pelayannya segera mencari Nyonya Sung dan memohon bantuannya.

Meski jarak antara mereka sangat jauh, Nyonya Sung tetap turun tangan untuk membantunya. Ia menggunakan keahliannya sebagai advokat untuk membebaskan Pendongeng Chon dari hukuman, sekaligus membuktikan bahwa buku tersebut adalah hasil curian. Selain itu, diam-diam Nyonya Sung juga meminta bantuan kepada Tuan Besar Song untuk menjamin identitas Pendongeng Chon.

Saat itulah terungkap bahwa Tuan Besar Song telah lama menyesali keputusannya mengusir anak sulungnya. Ia merindukan Pendongeng Chon dan ingin bertemu dengannya kembali. Setelah bebas, Pendongeng Chon melanjutkan kembali pertunjukan-pertunjukannya yang sempat terhenti.

Namun, tanpa sepengetahuannya, Nyonya Sung menemui Tuan Besar Song secara langsung dan meminta agar ia datang menonton pertunjukan anaknya sendiri. Akhirnya, di tengah salah satu pertunjukan besarnya, Pendongeng Chon melihat sosok ayahnya di antara penonton. Setelah acara berakhir, mereka bertemu.

Dengan suara yang dipenuhi rasa bersalah dan kerinduan, Tuan Besar Song meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu. Tanpa ragu, Pendongeng Chon menerima permintaan maaf itu. Setelah bertahun-tahun, ayah dan anak itu akhirnya berdamai.

Namun, setelah momen itu, Pendongeng Chon kembali menemui Nyonya Sung. Kali ini, ia sekali lagi mengungkapkan perasaannya. “Aku tidak pernah melupakanmu. Aku tidak pernah mencintai wanita lain selain dirimu. Aku tahu suamimu telah pergi selama tujuh tahun, dan tidak ada yang tahu kapan ia akan kembali.”

Sekali lagi ia meminta Nyonya Sung untuk meninggalkan kehidupan palsunya dan hidup dengannya. Namun, jawaban Nyonya Sung tetap sama, bahwa ia adalah Nyonya keluarga Sung dan ia masih seorang istri. Meskipun hatinya masih menyimpan kenangan tentang Pendongeng Chon, ia tidak bisa mengkhianati sumpah yang telah ia buat sejak hari pernikahannya.

Di awal episode, suasana pengadilan kerajaan menjadi latar utama. Nyonya Sung, atau yang dikenal sebagai Lady Ok, dibawa ke hadapan para hakim, di hadapan para bangsawan dan pejabat tinggi. Sebuah pertanyaan besar menunggunya:
Apakah ia benar-benar Lady Ok, seorang wanita bangsawan sekaligus advokat hukum yang dihormati? Ataukah ia sebenarnya Gudok, seorang pelayan yang bertahun-tahun lalu melarikan diri dan bersembunyi di balik identitas yang bukan miliknya?

Tatapan tajam para hakim dan bangsawan tertuju padanya. Siapa yang telah membongkar rahasia ini?
Bagaimana kebenaran ini bisa terungkap setelah bertahun-tahun ia hidup sebagai bagian dari keluarga Sung?

Selain itu, ada beberapa pertanyaan besar yang belum terjawab—kisah cinta yang penuh liku dan dilema yang tak kunjung menemukan titik akhir. Apakah hatinya masih akan tetap bertahan untuk suaminya yang tidak mencintainya dan tak kunjung kembali? Ataukah, di balik persidangan ini, takdir telah menyiapkan jawaban lain yang akan mengubah hidupnya selamanya?

Drama Twinkling Watermelon

Title: Twinkling Watermelon (English title) / Sparkling Watermelon (literal title)
Revised romanization: Banjjakyineun Watermelon
Hangul: 반짝이는 워터멜론
Director: Son Jung-Hyun
Writer: Jin Soo-Wan
Network: tvN
Episodes: 16
Release Date: September 25 – November 14, 2023
Runtime: Monday & Tuesday 20:50
Language: Korean
Country: South Korea
Main Actor: Ryeo Un, Choi Hyun-Wook, Seol In-A, Shin Eun-Soo

Ada banyak cara untuk menyampaikan cerita tentang keluarga. Drama ini memilih jalannya sendiri—musik dan perjalanan waktu. Ini bukan hanya cerita tentang seorang remaja yang tersesat di masa lalu, tetapi tentang menemukan makna keluarga melalui persahabatan lintas waktu, melalui nada dan harmoni yang melampaui generasi.

Awalnya, aku menonton drama ini karena banyak yang bilang ceritanya luar biasa. Rasa penasaran itu membawa aku ke episode pertama, dan sejak saat itu, aku langsung jatuh hati. Musik di sini bukan hanya sekadar elemen hiburan, tetapi menjadi benang merah yang menghubungkan karakter dari dua masa yang berbeda. Namun, yang membuat drama ini benar-benar istimewa adalah pesan besarnya—tentang bagaimana kita bisa melihat orang tua kita bukan hanya sebagai figur orang tua, tetapi juga sebagai manusia dengan cerita, perjuangan, dan luka mereka sendiri.

Episode pertama langsung membuatku merasa relate. Drama ini menggambarkan perasaan yang dialami banyak orang: menjadi seperti trophy keluarga, yang harus selalu bersinar agar tetap dianggap berharga. Ada rasa takut, bahwa jika kita gagal, kita akan ditinggalkan atau dianggap tidak cukup baik lagi. Dan karena itu, kita sering memaksakan diri untuk menjadi sempurna, bahkan sampai mengorbankan apa yang sebenarnya kita inginkan. Drama ini menyentuh perasaan itu dengan jujur, menggambarkannya secara emosional sehingga terasa dekat dengan kehidupan nyata.

Cerita drama ini berpusat pada seorang remaja berbakat musik yang karena suatu kejadian misterius, terlempar ke masa lalu, tepatnya ke tahun 1995. Ia tiba di masa ketika kedua orang tuanya masih remaja, seusia dengannya. Di sana, ia tidak hanya bertemu teman baru, tetapi juga menyaksikan sisi lain dari sejarah keluarganya yang selama ini tersembunyi. Setiap kali ia dan teman-temannya memainkan musik, ada rasa kebersamaan yang begitu tulus, seakan waktu berhenti hanya untuk menikmati harmoni tersebut. Musik dalam drama ini bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga menjadi jembatan emosi yang menyatukan hati para karakter.

Hal yang membuat drama ini begitu menghangatkan hati adalah caranya menghadirkan keluarga sebagai inti cerita, tanpa terasa berlebihan. Hubungan antar karakter dibangun dengan perlahan, melalui momen-momen kecil yang terasa nyata. Momen-momen seperti ini mengingatkanku pada perbincangan sederhana dengan orang tua yang mungkin baru kita pahami maknanya bertahun-tahun kemudian. Drama ini menjadi lebih spesial karena pemeran utamanya, seorang remaja, bisa melihat sisi orang tuanya yang selama ini tidak ia ketahui. Siapa sangka, ayahnya yang tuna rungu ternyata memiliki masa remaja yang mirip dengannya—dulu, ia bisa mendengar dan berbicara, menyukai musik, dan bahkan berkeinginan membentuk band sekolah. Drama ini menyentuh hati karena memperlihatkan bagaimana anak dan orang tua bisa terhubung melalui cara yang tidak terduga.

Di akhir cerita, penonton diingatkan bahwa membantu seseorang tidak selalu berarti harus berada di sisi mereka sepanjang waktu. Kadang, bantuan terbesar adalah dengan memberikan kepercayaan kepada orang tersebut untuk menjalani hidup mereka sendiri, dengan cara mereka. Tokoh utama menghadapi dilema serupa ketika ayahnya di masa lalu mengalami musibah kecelakaan. Ia bisa saja memilih untuk tetap tinggal di masa lalu demi menemani ayahnya melewati masa sulit itu. Namun, ia memutuskan untuk kembali ke kehidupannya di tahun 2023. Keputusannya itu berakar dari keyakinannya bahwa ayahnya cukup kuat untuk melewati segalanya sendiri—dan buktinya, ayahnya berhasil menjadi figur ayah yang baik baginya di masa kini. Pesan ini begitu sederhana, tetapi dalam: kepercayaan adalah bentuk dukungan yang tidak kalah pentingnya.

Setiap episode drama ini seperti melodi yang membawa kita melalui perjalanan emosional. Ada tawa, air mata, dan tentu saja musik yang selalu berhasil mengikat semua emosi itu menjadi harmoni yang sempurna. Drama ini bukan hanya sekadar tontonan, tetapi juga sebuah refleksi. Tentang bagaimana keluarga adalah tempat kita belajar untuk menerima, memaafkan, dan menghargai, bahkan ketika kita tidak sepenuhnya mengerti.

Jika kamu mencari drama yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan ruang untuk merenung, Twinkling Watermelon adalah jawabannya. Ini adalah kisah tentang waktu, cinta, dan musik—yang semuanya dirangkai menjadi satu cerita yang indah.

Orang berkhianat biasanya karena 3 alasan: menemukan geng yang lebih baik, nyawanya sedang terancam, atau menemukan sesuatu/seseorang yang mereka cintai sampai berani mengorbankan nyawa untuknya. Namun, apapun alasannya itu adalah kelemahannya.

Drama Our Blooming Youth

Title: Our Blooming Youth (English title) / Youth, Climb the Barrier (literal title)
Revised romanization: Chungchoonwoldam
Hangul: 청춘월담
Director: Lee Jong-jae
Writer: Jung Hyun-jung
Network: tvN
Episodes: 20
Release Date: February 6 – April 11, 2023
Runtime: Monday & Tuesday 20:50
Language: Korean
Country: South Korea
Main Actor: Park Hyung-sik, Jeon So-nee, Pyo Ye-jin, Yun Jong-seok, Lee Tae-seon

JY: Kurasa aku bisa menemukanmu di manapun kau berada.
LH: Dan aku tau harus menunggumu di mana.

Ketika menonton Our Blooming Youth, saya menemukan drama ini lebih dari sekadar drama berlatar kerajaan dengan kisah romansa dan misteri. Drama ini menghadirkan pelajaran berharga tentang hubungan yang didasarkan pada kepercayaan, pengertian, dan komunikasi yang sehat. Bagi saya, kisah dalam drama ini adalah contoh bagaimana mencintai dengan setara dan dewasa.

Cerita di drama ini berpusat pada Pangeran Lee Hwan, seorang putra mahkota yang hidup di bawah bayang-bayang kutukan misterius yang diterimanya melalui surat rahasia, dan Min Jae-yi, perempuan cerdas dari keluarga Min, putri dari guru Lee Hwan, yang dituduh membunuh keluarganya. Saat menjadi buronan, Jae-yi memutuskan untuk menemui Lee Hwan dengan tujuan membersihkan namanya dan menyampaikan pesan terakhir ayahnya, yaitu untuk melindungi sang putra mahkota.

Sejak awal, Lee Hwan memilih untuk percaya bahwa Jae-yi tidak bersalah. Ia memberinya kesempatan untuk membuktikan diri dan menjadikannya salah satu orang terdekatnya, yaitu dengan menyamar sebagai kasim di istana timur, istana putra mahkota tempat ia berada. Sebelum kejadian ini, Jae-yi kerap menyamar sebagai kakak laki-lakinya dan mengenakan pakaian pria untuk membantu menyelidiki berbagai kasus sulit di masyarakat, seperti pencurian dan pembunuhan. Kini, di samping Lee Hwan, Jae-yi berusaha keras menunjukkan bahwa dirinya dapat dipercaya. Hubungan mereka perlahan berkembang, didasarkan pada kepercayaan, pengertian, dan kesediaan untuk saling melindungi.

Yang membuat saya terkesan adalah bagaimana hubungan mereka terasa sangat setara. Tidak ada dominasi satu pihak atas yang lain. Mereka saling mendukung, berbagi kekuatan, dan menghadapi masalah bersama. Komunikasi mereka lancar, tanpa drama berlebihan atau kesalahpahaman yang sering muncul di banyak cerita. Hubungan ini memberi gambaran tentang cinta yang sehat, yang tidak hanya soal perasaan tetapi juga kemauan untuk saling memahami dan percaya.

Selain hubungan antara Lee Hwan dan Jae-yi, saya juga tertarik dengan persahabatan antara Lee Hwan, Han Seong-on, dan Tae-gang. Persahabatan mereka merepresentasikan hubungan yang tulus, dengan kepercayaan dan dukungan sebagai fondasi utama. Meskipun menghadapi berbagai upaya untuk memecah belah, termasuk bujukan dan jebakan dari beberapa pihak, mereka tetap memilih untuk saling percaya dan berdiri bersama. Begitu pula hubungan atasan-bawahan antara Jae-yi dan pelayannya, Ga-ram. Hubungan mereka berbeda dari hubungan majikan dan pelayan pada umumnya. Jae-yi memperlakukan Ga-ram seperti teman yang setara, tanpa menunjukkan perbedaan  status sosial. Sebaliknya, Ga-ram selalu setia mendampingi Jae-yi, bahkan ketika Jae-yi menyamar dan menyelidiki berbagai kasus.

Bagi saya, Our Blooming Youth bukan hanya sebuah drama yang menghibur, tetapi juga sebuah refleksi tentang bagaimana kita membangun hubungan dengan orang lain, baik itu dalam cinta maupun persahabatan. Drama ini mengajarkan bahwa hubungan yang sehat membutuhkan usaha dari kedua belah pihak, komunikasi yang baik, dan kepercayaan yang kuat. Meskipun tidak sempurna, kisah ini meninggalkan kesan mendalam dan memberikan banyak hal untuk dipikirkan setelah menonton.

Apa bagusnya perasaan kalau kau tak bisa mengatakannya, dan apa bagusnya hadiah kalau kau tak bisa memberikannya.

Lee Hwan

Salah satu dialog tentang memaafkan:
JY: Apakah kau bisa memaafkan mereka, Yang Mulia? Setelah mendengar cerita mereka aku mengetahui kejadian yang sebenarnya terjadi 10 tahun lalu. Namun aku kehilangan keluargaku karena mereka. Karenanya aku tak bersimpati dengan mereka.
LH: Aku mengerti. Namun Jae-yi, dari mana semua ini bermula? Siapa yang memulai semuanya? Mereka diusir dari rumah mereka dan berkelana selama sepuluh tahun. Mereka hanya mau pulang, dan seseorang membuat mereka melakukan kejahatan itu. Cho Won-bo lah yang memberi Myeong-ahn kecil persik, jadi bagaimana aku bisa menyalahkan Myeong-ahn karena membaginya dengan Ui-hyeon (meskipun dia alergi)? Bukan dia yang salah. Terluka dan saling menyalahkan adalah situasi yang dia (Won-bo) inginkan. Aku ingin menghentikan itu.
JY: Baiklah. Aku akan berusaha memaafkan mereka agar penjahatnya tidak menang.

Drama Family by Choice

Title: Family by Choice
Revised Romanization: Joribshik Gajok
Hangul: 조립식 가족
Director: Kim Seung-Ho
Network: JTBC
Episodes: 16
Release Date: October 9 – November 27 2024
Language: Korean
Country: South Korea
Main Actors: Hwang In-Yeop, Jung Chae-Yeon, Bae Hyun-Sung

Di drama ini, saya terkesan dengan hubungan dinamis antara Kim San-Ha, Yoon Joo-Won, dan Kang Hae-Jun. Sebelum membahas interaksi mereka, saya akan menjelaskan garis besar ceritanya. Drama ini berfokus pada tiga sahabat yang membentuk keluarga pilihan. Meski tidak memiliki ikatan darah, mereka tumbuh bersama, saling mendukung, dan menghadapi trauma serta konflik masing-masing.

Salah satu part yang paling menitikkan air mata adalah perjalanan hidup Kim San-Ha. Ia memiliki hati yang begitu baik dan tulus, bahkan terhadap ibunya yang telah meninggalkannya ketika ia masih kecil. Ibunya yang menyalahkan San-Ha atas kematian adiknya, bertahun-tahun kemudian kembali muncul dan meminta San-Ha untuk pindah ke Seoul dan tinggal bersama keluarga barunya. Ketika kecelakaan menimpa ibunya hingga suami barunya meninggal dan kedua kakinya cedera, San-Ha dengan tulus memilih tinggal di Seoul untuk merawat ibunya dan adik kecilnya. Ketulusan dan kebaikan hati San-Ha membuat saya terenyuh. Tidak semua orang mampu memberi begitu banyak kepada seseorang yang pernah melukainya.

Selain itu, saya sangat terkesan dengan persaudaraan mereka bertiga—San-Ha, Joo-Won, dan Hae-Jun. Mereka tidak selalu akur, sering bertengkar, bahkan kadang saling menyakiti. Tetapi di balik semua itu, mereka selalu bahu-membahu membantu satu sama lain. Meski tidak memiliki keluarga yang utuh dan menghadapi konflik keluarga yang terus membayangi hingga usia dewasa, masa kecil dan remaja mereka dipenuhi dengan persahabatan dan persaudaraan yang erat. Ikatan itu menjadi fondasi kokoh yang membuat mereka mampu melewati berbagai cobaan di masa dewasa.

Satu hal lagi yang menarik perhatian saya adalah perbedaan sudut pandang antara San-Ha dan Hae-Jun tentang ibu mereka. Mereka sama-sama ditinggalkan saat kecil, tetapi penerimaan dan persepsi yang terbentuk dalam diri keduanya sangat berbeda. San-Ha memiliki kepribadian yang kalem, emosi stabil, peka, dan cenderung memendam segalanya sendiri. Sementara Hae-Jun lebih ekspresif, berhati lembut, tetapi kurang peka terhadap keadaan sekitar.

Selain faktor kepribadian, saya pikir cara ibu mereka pergi juga memengaruhi persepsi mereka. Saat meninggalkan Hae-Jun, ibunya berjanji akan kembali, memberi secercah harapan meski terasa samar. Namun saat meninggalkan San-Ha, ibunya pergi dalam keadaan marah, sedih, dan muak terhadap keadaan, meninggalkan luka mendalam yang berbeda bagi San-Ha.

Namun, yang paling menarik untuk dilihat adalah persepsi Yoon Joo-Won. Wanita ini sejak kecil—bahkan mungkin sejak bayi, telah ditinggal mati ibunya dan hanya hidup bersama ayahnya. Namun Joo-Won hidup dalam kasih sayang yang cukup besar. Ayahnya memberikan perhatian penuh dan mengurus Joo-Won dengan baik. Hal ini membuat Ia tumbuh menjadi anak yang ceria, cukup dewasa, dan memiliki kemampuan untuk mencintai serta menerima cinta tanpa rasa takut yang berlebihan.

Drama ini mengingatkan saya bahwa keluarga tidak selalu tentang ikatan darah. Terkadang, keluarga adalah tentang orang-orang yang memilih untuk tetap berada di sisi kita, meskipun mereka tahu sisi buruk kita. Family by Choice mengajarkan bahwa cinta dan pengorbanan dalam keluarga pilihan bisa sama kuatnya dengan keluarga kandung.

Bagi saya, Family by Choice bukan hanya drama, tetapi juga perjalanan emosional yang mengingatkan akan pentingnya ketulusan, persahabatan, dan keluarga. Bagaimana menurut kalian?

Surat Untuk Jenaka

  • Author: Gigrey
  • Publisher: Akad
  • Year: 2024
  • Page: 448

Pernah gak kamu ingin melarikan diri sejenak dari dunia nyata? Nah, ini adalah salah satu pilihanku yang bisa bikin lupa sejenak dengan dunia nyata, yaitu buku yang berjudul “Surat untuk Jenaka”. Novel ini membawaku berkelana ke masa lalu, ke masa Hindia Belanda, dengan cara yang seru. Meski cerita tentang kembali ke masa lalu udah sering dijumpai, cara penulisnya ngasih bumbu fantasi, persahabatan, dan cinta itu beda dari yang lain.

Yang paling aku suka dari buku ini adalah hubungan romansa antara Jenaka dan Pramoedya. Mereka bukan cuma sepasang kekasih. Mereka adalah teman baik, bisa ngobrol apa aja, saling mendukung, dan ada satu sama lain pas susah maupun senang. Mereka itu kayak contoh hubungan yang sehat dan kuat, yang kita semua mungkin pengen punya.

Gigrey, penulisnya, meskipun gaya tulisannya mungkin bukan yang paling aku suka, tapi caranya bercerita itu bagus. Dia bikin aku gak bosan, karena tiap bab selalu ada aja yang bikin penasaran. Dan endingnya? Pas banget! Terutama bagi penyuka open ending. Bikin aku puas tapi juga masih mikirin karakter-karakternya.

Jadi, buat kamu yang suka cerita dengan sedikit fantasi, mengaduk-aduk emosi, dan pengen baca sesuatu yang bikin kamu terbawa suasana, novel ini wajib masuk daftar bacaanmu. Novel ini lebih dari sekedar cerita, ini tentang memahami dan merasakan—tentang waktu, cinta, dan pertemanan yang sejati.

Drama Tale of the Nine Tailed

Title: Tale of the Nine Tailed (English title) / Tale of The Nine-Tailed Fox (literal title)
Revised romanization: Gumihodyeon
Hangul: 구미호뎐
Director: Kang Shin-Hyo, Jo Nam-Hyeong
Writer: Han Woo-Ri
Network: tvN
Episodes: 16 + 12
Release Date: October 7 – December 3, 2020 (Season 1)
Runtime: Wed. & Thur. 22:50
Language: Korean
Country: South Korea
Main Actors: Lee Dong-Wook, Kim Bum, Jo Bo-Ah

Baru-baru ini, aku nonton drama Korea Tale of the Nine Tailed dan terkesan banget sama ceritanya. Drama ini tidak sekedar drama fantasi, nggak cuma soal mitologi dan dongeng rubah ekor sembilan, tapi juga bisa mengambil pelajaran tentang cinta, persahabatan, dan kehidupan. Ini beberapa hal yang paling berkesan buatku:

1. Cinta yang Dewasa
Aku suka cara Lee Yeon dan Nam Ji-ah saling mencintai. Mereka saling melindungi, rela berkorban, dan saling percaya tanpa posesif. Cinta mereka terasa dewasa, di mana mereka saling menghargai dan siap melakukan yang terbaik untuk satu sama lain. Ini bukan soal “memiliki” tapi tentang saling mendukung dan menerima. Ini tipe cinta ideal bagiku.

2. Kesempatan Kedua untuk Memperbaiki Diri
Drama ini mengingatkan kalau kita semua bisa bikin kesalahan di masa lalu, entah karena larut dalam kesedihan, salah ambil keputusan, atau terlalu egois. Tapi, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki dan belajar dari masa lalu. Lee Yeon adalah contoh karakter yang berkembang dari waktu ke waktu. Ia belajar menghargai orang-orang terdekatnya, belajar memahami dan memaafkan mereka, meskipun ia punya masa lalu yang rumit. Lee Yeon juga mengajarkan untuk mempersiapkan perpisahan, karena kenyataannya, kematian dan perpisahan bisa datang tiba-tiba.

3. Persahabatan yang Tulus
Di drama ini, persahabatan Lee Yeon, Moo Young, dan Hong Joo nggak selalu mulus. Mereka sering banget nggak akur, tapi di saat penting mereka saling melindungi. Ini menunjukkan kalau persahabatan sejati nggak harus selalu rukun, tapi lebih soal saling mendukung di saat dibutuhkan.

4. Ikatan Keluarga yang Kuat
Aku juga terkesan dengan hubungan Lee Yeon dan Lee Rang sebagai kakak-adik. Walaupun hubungan mereka nggak sempurna, tetap ada kasih sayang dan rasa percaya. Mereka mungkin sering bertengkar, tapi pada akhirnya selalu saling melindungi. Ini mengingatkan kalau keluarga itu penting, meskipun kadang ada konflik dan perbedaan yang tidak terhindarkan.

5. Kepemimpinan yang Penuh Empati
Drama ini juga nunjukin sisi kepemimpinan yang penuh perhatian. Baik Lee Yeon, Lee Rang, maupun Hong Joo memperlakukan bawahan mereka dengan rasa hormat dan peduli. Kepemimpinan mereka bukan cuma soal perintah, tapi juga soal mendukung dan membangun hubungan yang kuat dengan timnya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai