“Apa kabar siswa yang dulunya juara kelas? Pada jadi apa sekarang?”
Aku. Aku disini. Aku tertawa saat mendengar video yang mengandung kalimat tersebut atau semacamnya. Aku tidak tersinggung. Oh, ada yah orang yang peduli dengan hal itu. Bagaimana mungkin, aku saja melihat hidupku penuh anugerah. Ternyata dahulu aku bisa meraih semua itu. Namun jangan sangka menjadi juara kelas hidupmu akan selalu mulus. Pernah dikucilkan satu kelas karena ternyata hanya aku yang mengerjakan tugas. Sering mengalami fenomena teman-teman pada baik saat ada tugas atau dekat waktu ujian saja, setelah itu balik lagi diolok-olok, dikata-katain, dan verbal bullying lainnya. Untungnya tidak pernah kekerasan fisik. Memangnya itu enak?
Ketahuilah bahwa setiap orang mengalami kesulitannya tersendiri di setiap masanya. Mungkin aku beruntung memiliki nilai rapor akademis yang bagus. Ada juga yang beruntung karena memiliki bakat yang menonjol misalnya suara yang bagus, kepercayaan diri yang tinggi, hobi yang fully supported, keluarga yang hangat, dan lain sebagainya. Bukankah dahulu society yang membuat standar bahwa juara kelas adalah suatu hal yang penting. Lalu saat dewasa, society juga yang seolah meremehkan, kemana ya berkiprahnya sang juara ini? Padahal bisa saja, siswa yang juara kelas dahulu tidak merasa bahwa yang diraihnya adalah anugerah, karena tekanan lingkungan sekitarnya. Tolong berhenti berpikir bahwa ketika seseorang meraih apa yang tidak dapat kau raih, hidupnya lebih menyenangkan. No one knows what exactly happened to others.
Yang bertanya kabarku, aku baik-baik saja. Thank you so much for asking me:)
