Kehilangan

Aku tahu rasanya kehilangan. Kehilangan seorang manusia yang begitu dekat. Aku pernah. Rasanya bahkan bukan kehilangan satu orang. Karena kehilangan belahan jiwanya, Ia juga berubah. Aku tak lagi mengenalinya. Mungkin karena saat itu Ia kehilangan seorang yang berharga di puncak hidupnya. Saat seharusnya kehidupan berjalan bahagia layaknya manusia normal, baru menyelesaikan pendidikan tinggi tingkat dua, baru diterima menjadi pegawai negeri sipil, baru saja memiliki bayi, baru akan memulai hidup baru di kota yang baru. Namun takdir berkata lain. Takdir memang bisa terlihat sangat kejam. Seharusnya perubahan yang terjadi sangat normal. Namun apalah yang bisa dimengerti anak usia enam tahun saat itu. Yang dia mengerti hanya, dunianya tiba tiba berubah. Ya, kehilangan seseorang bisa menjadi semengerikan itu, bahkan mungkin lebih kejam lagi bagi sebagian orang. Tapi, itu adalah masa lalu. Kejam dan bahagia saat itu adalah masa lalu. Dan seperti apapun masa lalu, ia bagian dari hidupmu. Kelak ketika takdir kembali kejam kepadamu, hadapi saja. Tak ada yang abadi di dunia. Kelak akan tiba masanya ketika sedihmu, lukamu, sakitmu akan pergi dan menjadi masa lalu. Sungguh. Berpeganglah hanya pada Dia yang abadi.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS. Al Baqarah: 216)

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai