“Aku ingin menjadi tanah pijakan yang kokoh untukmu.”
Yu Ji-Hyeok (Marry My Husband)
Kalimat itu terdengar di telingaku, membuatku menghela nafas. Aku berpikir, betapa naif nya dia. Apa hanya itu yang dia inginkan? Tanpa sadar, air mata mengalir di pipiku. Meski naif, aku merindukan seseorang seperti dia di hidupku. Bagaimana mungkin? Ya, itu namanya cinta. Cinta yang pernah kurasakan. Harapan yang membuatku bertahan meski tahu semua sia-sia.
Aku pernah mendengar, cinta terkuat itu adalah yang dilandasi rasa kasihan. Tapi kebanyakan manusia tak suka dikasihani. Mungkin maksudnya bukan kasihan biasa. Ji-Hyeok merasa kasihan pada Ji-Won, yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Suami dan sahabatnya berselingkuh, ia stres sampai kena kanker, sering di-bully oleh teman-temannya dan bahkan atasannya. Lebih dari itu, Ji-Hyeok kasihan pada dirinya sendiri. Dia punya banyak kelebihan, dia dianugerahi banyak privilege, tapi tak punya ambisi. Dia hidup mengikuti arus, tanpa berani mengambil keputusan.
Kasihan. Apakah manusia sebegitu bencinya dikasihani? Apakah dikasihani adalah sesuatu yang teramat buruk? Aku rasa tidak. Manusia hanya takut ada perasaan lain yang menyertai kasihan. Perasaan seperti lemah, minder, takut bergantung, dan dikhianati. Mungkin manusia tak masalah dengan rasa kasihan yang tulus. Karena kasihan juga bentuk cinta. Setidaknya, itulah yang kupercaya dan kuyakini. Ya, aku pun ingin menjadi tanah pijakan yang kokoh bagi orang-orang yang aku sayangi.
