Drama Alchemy of Souls

Bercerita tentang kehidupan para penyihir di suatu kerajaan. Ada 3 komplek penyihir yang terkenal, yaitu Songrim, Cheonbugwan, dan Jinyowon. Dalam 1 komplek penyihir bisa terdiri dari beberapa keluarga. Ada 4 orang penyihir yang rupawan dari 4 keluarga penyihir yang berbeda. Mereka sangat terkenal dan dijuluki penguasa 4 musim, yaitu Jin Cho-Yeon yang berparas seindah musim semi, Park Dang-Gu yang penuh semangat seperti musim panas, Seo-Yul yang jenius dan berkarisma seperti musim gugur, dan Jang-Uk yang matanya bersinar seperti salju musim dingin. Mereka ber 4 berteman dekat sedari kecil.

Energi langit yang mengendalikan angin, awan, dan hujan menyentuh tanah, lalu membentuk kekuatan yang sangat luar biasa. Sebuah negara terbentuk dari energi yang tersimpan di dalam danau Gyeongcheondaeho. Negara itu disebut Daeho karena memiliki danau yang luas. Ini adalah kisah mengenai penyihir di negara Daeho, yang tidak ada di dalam sejarah maupun peta.

(Opening Alchemy of Souls)

Episode ter favorite ialah Eps 10, di mana mereka ber5 bekerja sama demi membuat Mu-Deok lolos menjadi pelayan di Istana Songrim, yang merupakan salah satu tempat pelatihan penyihir di sana. Bahkan mereka ber5 jadi mengetahui pengetahuan-pengetahuan yang harus dimiliki pelayan saat itu, seperti cara membersihkan noda dan cara menyajikan jamuan kepada tamu. Ini juga adalah alasan Mu-Deok menjadi karakter favorite. Dia bisa menempatkan diri dan bergaul dengan siapa saja yang ditemui, bahkan menjadi perekat hubungan antara pangeran dan penyihir 4 musim.

Sebelumnya, Naksu adalah seorang penyihir wanita yang terkenal dengan kekuatan dan kesaktiannya. Suatu hari saat perang melawan sekelompok penyihir bangsawan, Naksu terluka parah dan melarikan diri. Sebelum dirinya pingsan dan mati, Ia melakukan sihir hitam pemindah jiwa. Ketika jiwanya berhasil pindah, jasadnya menghilang. Jiwanya terperangkap di tubuh Mu-Deok, yang lama kelamaan dengan tubuh tersebut, Naksu mendapat kekuatan sihirnya kembali (setelah kejadian mereka ber 4 + pangeran terperangkap di dalam kekuatan batu es, yang diluruhkan oleh Jang-Uk). Pelan-pelan juga diketahui bahwa Mu-Deok adalah putri sulung keluarga Jinyowon (yg buta dan sangat sakti) yg diketahui telah mati tenggelam di danau.

Hal yang paling menyedihkan dalam hidup adalah menyesali tidak melakukan hal yang seharusnya bisa dilakukan.

(Seo-Yul)

Suatu hari, Jin Mu yaitu Petinggi di Cheonbugwan ingin menghabisi Jang-Uk karena diketahui bahwa batu es berada di dalam tubuhnya, karena kejadian saat berusaha keluar dari kekuatan tabir batu es yang mengurung mereka di dalamnya, batu es tersebut berada di tubuhnya Jang-Uk. Jin Mu yang mengetahui bahwa Mu-Deok adalah Naksu dan seorang pemindah jiwa lalu memanfaatkannya. Ternyata salah satu efek negatif dari sihir hitam pemindahan jiwa adalah para pemindah jiwa dapat menjadi tak terkendali bak monster apabila dibunyikan suatu lonceng. Dan Jin Mu memanfaatkan Mu-Deok dengan hal itu. Mu-Deok menjadi tak terkendali. Semua orang tau bahwa Mu-Deok adalah Naksu.

Di sisi lain, saat mengetahui kekuatan Naksu telah kembali, Jang-Uk pernah membuat janji dengan Mu-Deok. Apabila kekuatan Naksu sudah kembali dan dia ingin mengacungkan pedangnya untuk membunuh (lagi), maka arahkan pedang tersebut terlebih dahulu kepada Jang-Uk. Menurut Jang-Uk itu adalah konsekuensi untuknya karena telah membawa Naksu kembali di dunia ini.

Karena janji tersebut, Jang-Uk berusaha menyadarkan Mu-Deok. Namun efek lonceng terlalu kuat. Mu-Deok mengarahkan pedang ke Jang-Uk dan menusuknya tepat di dadanya. Setelah ia melakukan itu, ia baru tersadar. Dengan sisa energinya, ia pergi ke danau dan menenggelamkan diri di sana.

Di saat yang sama, kepala Jinyowon yakni Jin Ho-Gyeong menyadari bahwa Mu-Deok adalah anak sulungnya yang selama ini ia yakini belum wafat. Ia meminta tolong Guru Lee untuk menyelamatkan jasad anaknya tersebut. Namun Guru Lee berpendapat bahwa di dalam jasad Mu-Deok, terdapat 2 jiwa yaitu jiwa anak sulungnya, Jin Bu-Yeon dan jiwa Naksu, yang mana fisiknya akan berubah menjadi mirip Naksu dan ketika ia kembali sadar, ia akan kehilangan ingatannya untuk sementara. Ketika ingatannya kembali, kekuatan sihirnya akan kembali (sebagai Bu-Yeon dan Naksu). Namun jika kekuatan sihir Naksu telah kembali sempurna, jiwanya akan hilang, sehingga yang tersisa hanya jiwa Bu-Yeon. Meskipun mengetahui semua itu, Jin Ho-Gyeong tetap bersikeras untuk menyelamatkan jasad anaknya.

Mulailah kehidupan Naksu yang ke sekian kalinya. Jin Ho-Gyeong yang khawatir ingatan Naksu kembali, mengurungnya di suatu menara sihir di Jinyowon. Ia tidak diperbolehkan berinteraksi dengan dunia luar. Ia yang kehilangan ingatan juga dicekoki dengan kisah-kisah masa kecil sebagai Bu-Yeon sebelum ia akhirnya ditemukan dan diselamatkan.

Sementara di sisi lain, Jang-Uk yang telah wafat menjadi hidup kembali akibat energi batu es yang berada di tubuhnya. Ia hidup kembali dan energinya menyatu dengan batu es, di mana ia menjadi sangat kuat dan cepat. Namun ia hidup di dalam kesedihan. Yang ia dan semua orang tau adalah Naksu sudah mati tenggelam di danau. Ia sangat sedih akibat kehilangan kekasihnya, juga akibat perbuatan kekasihnya yang menusukkan pedang ke dadanya. Namun ia juga merindukannya. Ia membuatkan monumen khusus dan ia kerap ke sana setiap kali merasa sedih atau hampa.

Kini Jang-Uk menjadi pemburu pemindah jiwa. Sejak kejadian Naksu yang kehilangan kendali dan akhirnya wafat, para pemindah jiwa menjadi buronan dan itu merupakan hal terlarang.

Bak sudah ditakdirkan untuk selalu bersama, Jang-Uk tidak sengaja bertemu Bu-Yeon di menara, saat sedang berburu pemindah jiwa yang bersembunyi di area Jinyowon. Mereka pun menjadi akrab, karena merasa memiliki kemiripan kondisi, yaitu hidup di saat seharusnya sudah mati/mungkin sebaiknya mati. Bahkan saat mengetahui Bu-Yeon akan dinikahkan paksa dengan orang lain (hanya untuk mengandung keturunan penerus Jinyowon), Jang-Uk bersedia menikahinya dengan syarat, ketika kekuatan Bu-Yeon kembali, ia harus membantunya mengeluarkan batu es dalam tubuhnya (karena Bu-Yeon remaja terkenal sebagai penyihir yang kuat dan bisa menggunakan energi batu es).

Meski memiliki kekuatan batu es dan sudah menguasai hwansu, tapi kau tak bisa mendapatkan kembali hati istrimu. Kekuatanmu tak ada gunanya ckckck.

(Putera Mahkota Go-Won)

Namun perjalanan rumah tangga mereka tidak mulus. Bu-Yeon pelan-pelan mengingat kembali saat-saat Naksu menjadi Mu-Deok. Namun ia tidak yakin apakah itu ingatannya atau ia sedang membaca ingatan benda peninggalan Mu-Deok yang dipegangnya. Jang-Uk kerap membatasi interaksinya dengan Bu-Yeon. Namun Bu-Yeon tidak menyerah. Menurutnya, kehidupannya bersama Jang-Uk sekarang sudah sangat-lebih-baik, dari pada harus balik ke menara (rumahnya) tempat ia dikurung, meskipun Jang-Uk sering menghindarinya. Pelan-pelan Jang-Uk bisa menyayangi Bu-Yeon, yang tingkahnya sering mengingatkannya pada kekasihnya yang telah tiada. Ia juga jatuh cinta dengannya.

Pelan-pelan, ingatan Bu-Yeon sebagai dirinya sendiri maupun sebagai Naksu pun kembali, seiring dengan kembalinya kekuatan Bu-Yeon dan Naksu di tubuhnya. Pelan-pelan, Jang-Uk mengenali Bu-Yeon sebagai Naksu. Jalan mereka tidaklah mulus. Harus melewati berbagai penolakan, sakit hati, hingga akhirnya menerima keadaan dan ketetapan. Endingnya? Just watch it! You won’t regret❤️

Air tidak dapat digenggam tapi tanah bisa menampungnya.
Api tidak dapat disentuh tapi kayu bisa memeluknya.
Angin tidak dapat ditangkap tapi beristirahat di atas batu. Jika dibiarkan begitu saja, apapun yang ada di manapun akan terlihat sangat memesona dan membuat berdecak kagum.
Hembusan napas yang keluar merekah seperti salju dan membentuk air mata tapi tidak dapat dititikkan dan terpaksa disembunyikan.
Meski tahu akan terisi lagi walau dikosongkan, air mata kebodohan dan kesedihan tidak dapat dititikkan walau setetes.

Bunga Anggrek yang Mekar di Tengah Salju Putih (Seo-Gyeong)

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai