Katanya mimpi hanyalah bunga tidur. Namun, aku lebih sepakat dengan yang bilang bahwa mimpi adalah representasi alam bawah sadar. Faktanya mimpiku tidak pernah benar-benar berbeda dengan kenyataan. Jika aku pikir-pikir kembali, mimpiku adalah kumpulan dari angan-angan ku, kecemasanku, ketakutanku, juga pengetahuanku. Seperti mimpiku tadi malam dan malam-malam sebelumnya. Aku sedang bersama seseorang. Aku mencintainya dan bahagia ketika bersamanya. Ia juga terlihat bahagia dan mempunyai perasaan yang sama denganku. Namun aku di dalam mimpi merasa cemas dan takut melanjutkan jalan berdua dengannya di tempat yang sepi yang jauh dari kerumunan. Aku takut tidak kuasa mengontrol diriku yang sangat mencintainya. Padahal hanya mimpi. Namun aku di dalam mimpi pun tetap selalu menahan diri. Di mimpi lainnya, aku sedang bersama seseorang yang di dalam mimpi tersebut apa yang dia lakukan sama persis dengan kenyataan. Ia perhatian, lemah lembut, dan sering membantuku, namun tatapannya mengatakan bahwa Ia tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Setiap kali terbangun dari mimpi yang seperti itu, aku merasa dadaku sesak. Aku ingin menangis tapi tidak bisa menangis. Bukan, bukan karena aku menyesal tidak melakukan banyak hal di dalam mimpiku. Oh my, tidak bisakah perasaan yang membuncah ini tidak kembali terulang di mimpi? Atau setidaknya bisakah semesta mendukungku di alam mimpi? Aku tau perasaan itu seharusnya tidak ada. Namun, perlukah semesta mimpi mengingatkanku kembali?
