Self Dialogue (1)

Dear little Afifah,
Aku hanya ingin sejenak berbincang denganmu. Terima kasih telah bertahan. Sekarang aku dapat memahami apapun yang kau lakukan. Kau melakukan semua hal bukan tanpa alasan. Mungkin kau tidak menyadari, tapi aku menyadari. Saat semua orang, bahkan kau pun berpikir bahwa kau tidak memiliki impian, jauh dalam lubuk hatimu kau memikirkannya dan memilikinya. Sebuah impian yang sempurna. Namun seiring kau tumbuh menjadi dewasa, kau berpikir dan khawatir bahwa mimpi itu terlalu jauh darimu. Sedangkan keinginan yang dekat denganmu saja tidak dapat kau raih. Aku tahu, setiap kompetisi kau selalu berharap meraih minimal juara 3, namun kau hanya stuck sampai semifinal. Setiap olimpiade yang kau ikuti, kau selalu berharap lolos sampai nasional, namun kau hanya dapat sampai tingkat provinsi. Bahkan setiap nilai raport semester diumumkan, kau selalu berharap dapat meraih juara umum, namun kau hanya sebatas juara kelas. Hingga lambat laun kau tidak pernah berharap lagi dan hanya menjalankan rutinitas. Aku paham, di sisi lain kau pun tahu banyak orang yang menginginkan posisimu. Namun aku tau persis, apa-apa yang tidak sejalan dengan harapan, bagi seseorang itu bisa dikategorikan ke dalam kegagalan. Dan kegagalan sama menyakitkannya untuk semua yang mengalaminya. Dan kau dari dulu memendam kesedihanmu itu, kau tidak menceritakannya karena kau memang tidak terbiasa untuk bercerita dan kau pikir tidak semua orang bisa paham sudut pandangmu. Semua orang berkata: good job Afifah, congratulations kamu lulus semi final atau kamu lulus ke tingkat provinsi atau kamu juara kelas! Tapi hampir tidak ada yang mengatakan: tetap semangat Afifah, lain kali kamu pasti bisa sampai tingkat nasional, lain kali kamu pasti bisa memenangkan kompetisi itu. Di sisi lain kau juga tau bahwa pencapaianmu ini wajib disyukuri dan tidak semua orang bisa mencapai posisimu. Aku dapat memahami tindakanmu.

Kau tahu? Hidup manusia memang selalu kompleks. Ada suatu hal yang aku pelajari di usiaku yang hampir seperempat abad ini. Yakni tidak mengapa jika kau tidak ingin bermimpi atau tidak mempunyai cita-cita. Hei, tidak punya cita-cita bukan berarti tidak punya keinginan, kan? Yang perlu kau lakukan hanyalah tidak berhenti mengusahakan yang terbaik apapun fase yang harus kau lalui. Kau hanya perlu menyadari bahwa kau telah dikaruniai kemampuan tertentu di atas rata-rata. Apakah kau hanya akan membiarkannya saja dan tidak memakainya? Jika kau tidak bersemangat dalam belajar karena tidak mempunyai mimpi, kau bisa memikirkan ulang tujuanmu. Apakah tujuanmu hanya sebatas memenuhi ekspektasi society atau untuk memanfaatkan pemberian Tuhan dengan semaksimal mungkin. Hanya kau yang memahami tujuan pribadimu itu. Namun, selalu usahakan yang terbaik. Semoga seiring berjalannya waktu, kau akan menemukan impian-impian baru. Hei, bukankah salah satu impian terpendammu adalah menjadi ibu rumah tangga yang baik? Wkwk. Kau pasti tahu menjadi ibu rumah tangga harus pintar, harus cerdik. Dan kecerdikan itu perlu diasah dengan selalu mengusahakan yang terbaik. Ibu rumah tangga juga perlu berpendidikan. Mengenai pendidikan tingkat lanjut, aku juga mempunyai beberapa saran untukmu.

Kau tahu? Dunia kuliah ternyata sangat berbeda dengan sekolah. Saat kuliah aku tidak lagi menjadi “juara”. Itu sempat membuat aku terpuruk selama beberapa semester, sebelum akhirnya aku berani menerimanya dan instrospeksi diri. Ternyata aku dahulu memasuki dunia perkuliahan dengan sangat tidak siap. Pertama adalah pahami cara belajarmu. Ternyata dahulu ini adalah kunci aku selalu menjadi juara kelas. Aku adalah seorang audio. Di mana seorang audio cepat belajar melalui suara, antara dia mendengarkan penjelasan orang lain atau dia yang menjelaskannya ke orang lain. Ssstt kau terkadang saat menjelaskan ke orang lain dalam keadaan tidak paham, namun seiring mengajarkan orang lain kau menjadi paham, bukan? Dan ketika berkuliah, cara belajarku yang seperti itu kurang tersupport karena karakterku yang tidak cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Lingkunganku individual, sibuk dengan urusan masing-masing, dan mereka lebih berpengalaman dalam jurusan kuliah. Mereka familiar dan passionate dengan pemrograman dasar. Itu kesalahanku. Maka saranku yang kedua adalah cari tau detail jurusanmu, bahkan kalau bisa cicil sebagian skill inti yang dibutuhkan di jurusanmu sebelum kau masuk. Even jika jurusan kuliahmu hanyalah saran dari orang lain. Ternyata otakmu yang pintar itu sebaiknya tidak menganggur sebelum kuliah. Atau jika terlanjur berada sama dengan posisiku dulu, jangan lari dari masalah. Berusaha belajar dan bertanya kepada teman-temanmu yang lebih berpengalaman itu. Tidak mengapa dianggap bodoh karena tidak mengetahui hal yang seharusnya sudah kamu ketahui. Singkirkan harga diri yang tidak berguna itu. Sungguh, tidak mengapa dianggap bodoh. Namun kau perlu tahu, tidak semua orang bersifat judgemental. Ada orang-orang yang kagum terhadap orang yang berani bertanya dan mengemukakan kalau dia belum paham akan suatu hal. Karena jika tidak sekarang, kau akan lebih kesulitan nantinya. Okey, cukup dulu ya. Tidak terasa ternyata perbincangan kita ini tidak singkat. Dear little Afifah and everyone who has a similarity to her, kisah ini untukmu.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai