Kata Bang Tere, jika ingin menjadi penulis, maka rutinkan menulis seribu kata setiap hari selama 180 hari. Niscaya esok hari akan kau temukan tulisanmu akan sebanding hebatnya dengan penulis yang hari ini bukunya kau baca atau idolakan. Maka aku pun memaksa diriku untuk melakukannya-meski mungkin tidak langsung seribu kata perhari. Aku bercita-cita menjadi penulis fiksi atau opini. Aku menyadari kelemahanku dalam hal berbicara di depan publik, maka aku ingin melontarkan opini dan imajinasiku lewat tulisan. Namun aku pernah mendengar atau membaca di sosial media bahwa ketika kau menulis, posisikan dirimu sebagai penulis, bukan editor. Sering kali yang menjadi penghambat seseorang ketika menulis adalah ia memposisikan dirinya sebagai editor, seperti apakah tulisan ini enak dibaca atau didengar, layak kah dikonsumsi publik, sesuai kah dengan ejaan yang benar, dan lain sebagainya. Coba mulai saja dahulu. Tuangkan saja apa yang ada di pikiranmu saat ini. Nanti baru dikoreksi belakangan.
Dalam suatu video Utube, Bang Tere pernah berkata bahwa untuk menuangkan apa yang ada di pikiranmu menjadi sebuah tulisan, pikiran perlu amunisi. Amunisi disini adalah bacaan, artinya perlu banyak membaca sebelum menulis. Namun di satu sisi aku juga pernah mendengar bahwa menulis adalah salah satu cara untuk membuktikan bahwa kau memahami apa yang pernah kau baca atau pelajari. Semakin sederhana atau mudah dipahaminya seseorang dalam menjelaskan atau mendeskripsikan suatu hal, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pemahamannya akan hal tersebut. Jadi membaca dan menulis adalah hal yang semestinya serangkaian. Tidak hanya membaca tentang banyak hal, namun tidak juga hanya menuliskan tentang banyak hal. Aku ingin menjadi penulis. Bukan untuk membuktikan bahwa diriku mempunyai eksistensi di dunia ini. Bukan untuk membuktikan bahwa aku hebat dan aku mempunyai karya. Tapi untuk diriku sendiri dan masa depanku. Bahwa aku menyukai sensasi ketika melontarkan kata-kata. Syukur syukur kalau itu adalah kata-kata yang indah dan bermakna.
Tahukah kau bahwa manusia modern mengeluarkan rata-rata seribu kata perhari di media sosial mereka? Bahkan wanita perlu mengeluarkan kata-kata hingga dua puluh ribu kata. Aku tahu, aku tak dapat berbicara dengan fasih seperti pembicara terkenal, aku juga tidak pandai berpose atau very good looking person seperti selebriti instagram atau tiktok. Aku akan memilih jalanku disini, lewat tulisan. Sejak menonton drama korea Twenty Five Twenty One, aku ingin sekali mempunyai buku harian seperti Na Hee-Do. Aku tahu hidup tak akan pernah mudah. Bagiku menulis adalah salah satu cara untuk merilis emosi. Aku dibesarkan dalam keluarga yang utuh, namun tidak terbiasa untuk berbagi perasaan. Buku harian adalah sahabatku. Aku ingin selangkah lebih maju. Tidak hanya menulis di buku harian yang bersifat sangat personal, namun juga untuk konsumsi publik. Bang Tere berkata bahwa kunci menjadi penulis yang baik adalah latihan, latihan, latihan. Aku tau bahwa konsisten itu sulit. Namun aku akan terus mencoba.
