Langit biru bercorak jingga kala itu. Sebagian sinar matahari tertutup awan. Seorang gadis berdiri di balkon rumahnya. Ia sedang menikmati suasana senja sambil menghirup udara segar. Angin sepoi sepoi bertiup. Sejenak Ia menatap pemandangan sekitar. Pepohonan hijau di antara bangunan, atap rumah dengan berbagai bentuk dan warna, burung yang beterbangan, dan kendaraan yang berseliweran di jalanan.
“Menyenangkan sekali berada disini” pikirnya.
“Aku bebas melihat apapun yang ada disana, dan mereka bahkan tidak berpikir bahwa aku menyaksikannya dari sini”
Namun tentu saja, pandangannya terbatas oleh dinding, pohon, atap, jarak pandang, apapun itu. Begitulah manusia. Baik dari sudut pandang si gadis maupun orang orang yang berlalu lalang di jalanan. Atau dari sudut pandang makhluk lain, seperti burung yang beterbangan maupun pepohonan taman belakang. Pandangan mereka terbatas. Dinding mungkin tidak bermaksud menghalangi pandangan si gadis. Namun Ia tetap saja menghalangi. Si gadis bisa saja merasa kesal dan marah karena merasa kesenangannya terganggu. Tapi Ia memilih untuk tidak berfokus pada hal itu. Ia memilih menikmati suasana senja dengan damai, dengan hanya melihat apa yang bisa Ia lihat.
