Memori Lama (2)

Di sudut ruangan, di atas dipan, seorang anak manusia duduk termangu. Hatinya gelisah, komat kamit memohon kepada Yang Kuasa. Pandangannya tak lepas dari ponsel di tangannya. Tak terasa sebutir kristal bening jatuh di sudut matanya. Beberapa saat yang lalu ia baik baik saja. Baru kembali dari hangout bersama teman teman. Lalu kabar itu datang, bagai petir yang menyambar ketika badai. Nun jauh di sana, ayahnya kritis, dan sedang dilarikan ke IGD. Iya, jauh. Sekarang ia sedang bekerja di lain kota. Sebelumnya selama beberapa waktu, ia liburan ke tempat orang tuanya. Hubungan mereka dari luar terlihat biasa saja selayaknya hubungan anak dan orang tua. Tetapi dalam hatinya, ia menyimpan dendam masa lalu. Selama ini luka itu ia kubur di lubuk hatinya yang terdalam. Karena satu dan lain hal, kembali menguak ke permukaan. Namun siapa sangka, kabar itu dapat mengubah banyak hal. Malam itu ia termenung. Tanpa bisa dicegah, memori masa lalu terputar sendiri dalam ingatannya. Senang dan sedih. Butir butir kristal bening tak kuasa ia bendung. Ia sadar ia begitu menyayangi ayahnya. Apalagi pasca berpulangnya sang ibu. Seiring berputarnya memori masa lalu, air matanya semakin deras. Hingga satu waktu hatinya berucap, memohon kepada Yang Kuasa, jika memang waktunya telah tiba, sungguh ia telah memaafkan ayahnya dan mudahkanlah ia pergi, namun jika ia masih diberi kesempatan untuk bersama ayahnya lebih lama, sungguh ia telah menerima semua masa lalu itu. Seketika seluruh dendamnya luruh, terbawa oleh derasnya air mata dan terhapus seiring ia membasuh wajahnya dengan air wudhu. Masa depan yang baru menantinya.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai