- Judul: Pulang-Pergi
- Penulis: Tere Liye
- Penerbit: PT Sabak Grip Nusantara
- Genre: Novel Remaja 15+
- Tahun terbit: 2020
- Jumlah halaman: 414
- Tokoh utama: Bujang, Thomas, Salonga, Junior, Maria
Beberapa kutipan berikut yang sangat aku sukai, yang mungkin akan memberikan sedikit gambaran mengenai cerita dan tokohnya:
“Kau memang suka membaca, Thomas?”
“Aku seorang konsultan, kawan. Yeah, aku harus mengupdate kepalaku dengan banyak informasi baru tentang dunia keuangan terkini.”
“Apa hubungan keuangan dengan buku tips menanam tomat?”
“Tidak ada. Tapi itu mungkin berguna suatu saat nanti. Misalnya, jika klienku adalah pemilik perkebunan tomat terbesar di dunia. Dia akan terkesan dengan pengetahuanku tentang tomat.”
“Kenapa kau kembali, Thomas?”
“Kau keliru, kawan. Aku tidak pernah pergi. Maka bagaimana aku akan kembali? Hidupku tidak serumit hidupmu, Bujang. Hidupku sederhana. Meskipun aku bukan anggota shadow economy. Ini juga adalah perangku. Bagiku, Nata dan anak buahnya adalah bedebah. Itu cukup untuk menentukan prinsipku. Kau tau defenisi bedebah? Bedebah adalah penjahat. Sejak kecil, saat aku masih mengantarkan susu ke rumah tetangga, bedebah selalu muncul dalam hidupku. Mereka membuat orangtuaku mati terbakar menjadi abu. Maka aku memutuskan melawan mereka. Jadi ini adalah perangku. Ini adalah hidupku.”
“Terima kasih tidak pernah pergi dari rombongan ini, Thomas.”
“Kenapa kau memilihku Maria?”
“Karena kau berbeda dengan penguasa shadow economy lainnya.”
“Tapi aku bukan lagi Tauke Besar Keluarga Tong.”
“Itu membuatnya lebih baik. Sejak kecil aku hidup dalam dunia itu, Bujang. Sejak kecil aku disiapkan untuk menjadi pemimpin organisasi Bratva. Lantas kau datang, dengan pemahaman yang berbeda. Bahkan dengan ringan kau melepaskan posisi pimpinan Keluarga Tong. Tapi itu bukan satu satunya alasan. Aku memilihmu karena kau mudah sekali diomeli. Saat aku berteriak marah, wajahmu langsung pucat. Saat aku berseru galak, kau seketika salah tingkah. Senang saja melihatnya. Saat kau mengalahkanku waktu duel, wajahmu terlihat merasa amat bersalah telah mengolokku. Bergegas minta maaf. Aku suka pemuda seperti itu. Pemuda yang takut pada wanita.”
“Tidak usah dijelaskan. Aku tidak akan bertanya. Aku juga tidak akan bertanya meski kalian membawa senapan. Itu bukan urusanku. Aku akan dengan senang hati menjual mobil ini. Toh, sepertinya kalian akan membelinya dengan harga yang mahal. Aku bisa menggantinya dengan yang lebih besar dan baru. Tapi badai semakin lebat. Jika kalian mau mendengar saranku, kalian sebaiknya menginap disini semalam. Besok pagi pagi kalian bisa melanjutkan perjalanan. Kemanapun kalian pergi, terserah.”
“Aku tahu kau masih marah atas keputusanku mengenai Yurii. Ketahuilah, Thomas, hari ini kau tidak setuju keputusanku , maka besok lusa hanya soal waktu, sebaliknya, akan ada momen aku tidak setuju dengan keputusanmu. Marah sekali, nyaris hendak meninjumu atau menembakmu. Seperti yang kau rasakan saat melihatku. Tapi aku berjanji, Thomas. Aku bersumpah, jika itu terjadi, aku akan menghormati keputusanmu. Itulah yang disebut teman sejati, Thomas. Kita saling menghormati keputusan teman. Kau tidak suka keputusanku, tapi kau menghormatinya. Besok lusa, jika aku tidak setuju keputusanmu, aku akan menghormatinya dengan segenap darahku.”
“Kau tahu kenapa banyak penguasa shadow economy tumbang setelah sekian lama berkuasa? Otets gagal, dia dikhianati anak buahnya sendiri. Tauke Besar gagal, dia dikhianati oleh Basyir. Karena mereka tidak menghormati keputusan orang lain. Jika Otets mendengarkan dan menghormati keputusan Dimitri, yang menolak meledakkan reaktor nuklir, nasibnya mungkin tidak seperti ini. Dia tetap bisa membangun organisasi Bratva, dia tetap bisa membuat retakan di tiang-tiang negara, tapi dia tidak perlu mengusir jutaan keluarga. Otets tidak menghormati keputusan Dimitri yang berpendapat lain. Tapi aku tidak akan melakukan itu, Thomas. Kita memang baru berkenalan 48 jam terakhir. Tapi kau adalah temanku saat ini, keluargaku. Jalan hidup kita seperti ditakdirkan bertemu. Maka aku akan selalu menghormatimu. Aku membiarkan Yurii hidup karena dia bermanfaat untuk esok lusa, jangka panjang. Itu bukan karena aku egois dan sok berkuasa.”
“Kau hendak menyuruh Bujang meminum anggur itu? Percuma. Dia tidak akan meminumnya walau setetes. Mamaknya telah membuatnya bersumpah. Dan dia memilih mati dari pada melanggar janji itu.”
“Kau tahu, informasi yang kau sampaikan tadi adalah tindakan bodoh. Aku tahu kau sangat pintar. Tapi kau abai satu fakta kecil, Bujang tidak perlu meminum anggur itu. Jika dia memang mewarisi sel saraf super sepertimu, dia cukup menghirup udara yang tercemar bau anggur, maka dampaknya akan sama. Kau sial, kali ini kawan. Bujang tidak pernah meminum minuman keras. Maka kau bayangkan saja efeknya saat kekuatan milik kakeknya itu pertama kali aktif.”
