Aqidah Kokoh Modal Kehidupan

by: Marina Noorbayanti, S.Si

  1. Aqidah bagi seorang muslim itu seperti pondasi pada sebuah bangunan. Jika pondasinya kuat, maka bangunannya kuat, tahan terhadap goncangan, tidak mudah roboh. Begitu juga dengan manusia. Jika aqidah seseorang itu kokoh, maka dia juga akan kuat dalam menjalani kehidupannya, tidak akan mudah putus asa, paham untuk apa dia hidup. Sebaliknya jika aqidahnya lemah, maka seseorang akan menjalani kehidupannya tanpa arah, tidak paham untuk apa dia hidup, untuk apa dia bekerja. Pentingnya punya aqidah yang kokoh adalah karena itu sebagai modal. Modal dalam menjalani hidup. Paham untuk apa dia hidup dan hidup seperti apa yang harus dijalani.
  2. Ada tiga pertanyaan mendasar yang penting tentang diri manusia:
    a) dari mana manusia berasal?
    b) untuk apa manusia hidup?
    c) apa yang terjadi pada manusia setelah kematian?
    kenapa disebut tiga pertanyaan penting? Karena jawaban dari ketiga pertanyaan ini akan berpengaruh pada pondasi keimanan seseorang. Ketiga pertanyaan ini juga merupakan pertanyaan pertanyaan yang pasti pernah muncul di benak manusia yang berakal. Maka tidak heran ketika ada banyak penelitian tentang asal usul alam semesta, mulai dari teori biogenesis, abiogenesis, spontaneous, penciptaan, dll. Ini merupakan fitrah dimana manusia mencari tau tentang dirinya. Manusia juga kemudian menjelajah ruang angkasa untuk mencari jawaban tentang sosok yang menciptakan mereka dan asal muasal kehidupan, hingga mencoba memprediksi kapan akhir dari dunia ini. Namun sebagian manusia juga bertanya tanya, untuk apa sih pertanyaan ini ditanyakan, bukankah anak kecil juga bisa jawab? Namun perbedaan jawaban anak kecil dan orang dewasa adalah kemampuan berpikir tentang hakikat dari jawaban tersebut.
  3. Jawaban dari tiga pertanyaan di atas harus didapat dari sumber yang benar. Sumber tersebut tidak bisa berdasarkan pada pemikiran spekulatif, yang bisa benar bisa salah. Sumber yang benar tersebut adalah Al Quran, karena Al Quran adalah kalamullah. Allah adalah pencipta alam semesta ini, maka Allah juga yang memberikan tuntunan dan panduannya. Salah satu alasan yang dapat memperkuat keyakinan terhadap Al Quran adalah bahwa Al Quran benar diturunkan oleh Allah dan bukan karangan manusia. Hal ini didukung oleh pendapat banyak ahli bahasa dan sastra pada masa itu, salah satunya yang bernama Al Walid bin Al Mughiroh yang berkata bahwa bahasa Al Quran amatlah tinggi dan tidak bisa dikalahkan.
  4. Adapun jawaban yang sohih mengenai pertanyaan pertama, dari manakah manusia berasal dan dari manakah kehidupan ini berasal, akan dijabarkan kemudian. Sebagaimana dalam QS. Al Ikhlash:1-4 dapat diambil simpul bahwa semua ini berasal dari Allah. Ayat ini membantah pernyataan pernyataan yang menganggap ada Tuhan selain Allah, Tuhan itu berbilang, maupun Tuhan hanya menciptakan tapi yang mengatur kehidupan adalah manusia.
  5. Selanjutnya adalah jawaban dari pertanyaan, untuk apa manusia hidup. Dalam QS. Adz Dzariyat:56 dijelaskan bahwa tujuan jin dan manusia diciptakan adalah untuk beribadah. Karena jin dan manusia hidup untuk beribadah, maka seluruh aktifitas, baik berupa pemikiran, perasaan, maupun tingkah laku disandarkan untuk beribadah kepada Allah. Maka seharusnya tidak ada dalam hidup seorang muslim pekerjaan yang sia sia. Hal ini didukung oleh pernyataan dalam QS. Al Mukminun: 115 yaitu manusia diciptakan bukan untuk main main. Hidup di dunia ini hanya sebentar. Hidup di dunia ini layaknya musafir. Dalam QS. Al Qiyamah:36 disebutkan bahwa kelak manusia diminta pertanggungjawabannya semasa hidup di dunia.
  6. Selanjutnya adalah jawaban dari pertanyaan, apa yang terjadi setelah kematian. Tidak ada yang abadi di dunia. Kematian bukan merupakan akhir kehidupan, melainkan awal dari kehidupan sesungguhnya. Dalam QS. Al Mukminun:15-16 disebutkan bahwa manusia pasti akan melalui kematian dan pada hari kiamat kelak semua manusia akan dibangkitkan dari kubur atau kematian. Ini menjelaskan bahwa kelak manusia akan kembali dihidupkan. Untuk apa dihidupkan kembali? Tidak lain untuk dimintai pertanggungjawaban mengenai perbuatannya selama hidup di dunia. Tidak ada satu pun yang luput, mulai dari pikiran, perasaan, perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya.
  7. Dalam QS. Al Zalzalah dan QS. Al Qoriah telah dijelaskan mengenai keadaan hari kiamat, keadaan bumi ketika itu, bahwa Allah akan menghisab atau membalas semua kebaikan dan keburukan sekecil apapun itu, dan semua akan bersaksi mengenai perbuatan manusia di dunia. Setiap jin dan manusia juga akan diberikan buku catatan amal, yang dapat diberikan melalui tangan kanannya, tangan kirinya, maupun dari belakangnya tergantung amal masing masing. Selanjutnya setelah hisab, manusia akan melalui jembatan shirath, yang kondisinya di atas neraka, lebih gelap dari gelapnya malam, dan ketebalannya lebih tipis dari pada sehelai rambut. Saat mati lampu di rumah, biasanya manusia berjalan dengan pelan dan hati hati agar tidak terbentur atau terjatuh, padahal itu di atas lantai yang tebal, dan tidak ada lubang yang dapat membuatnya terjatuh. Bagaimana dengan di atas shirath? Maka yang dapat membantu manusia saat itu hanyalah amal baiknya selama di dunia.
  8. Setelah bangkit dari kematian, hanya ada dua tempat yang Allah sediakan, yakni surga dan neraka. Dalam hadist qudsy riwayat Bukhori dan Muslim dijelaskan bahwa Allah menyediakan surga bagi hamba hambaNya yang soleh, yang kenikmatannya tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan tidak pernah terpikirkan oleh manusia. Tidak seorangpun mengetahui bagaimana nikmatnya balasan bagi orang orang yang soleh ini. Orang orang ini senantiasa menyandarkan seluruh aktivitasnya kepada Allah, suka, duka, baik, buruk, dan bencinya hanya untuk Allah, seluruh hidupnya mengikuti panduan Al Quran dan Sunnah. Meskipun kehidupan dunianya mungkin tidak lebih nikmat dari pada orang lain karena mengikuti panduan itu. Rasulullah juga pernah mengatakan bahwa kehidupan dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Maka jangan jadikan dunia ini seperti surga dan jangan sedih jika kehidupanmu jauh dari kata surga. Itu semua adalah untuk orang yang beriman dan beramal soleh. Tidak cukup hanya beriman. Konsekuensi iman adalah mengamalkan apa yang Allah perintahkan.
  9. Dalam QS. Muhammad:15 dijelaskan dan digambarkan bagaimana kondisi makanan dan minuman di surga dan neraka. Di surga terdapat sungai sungai dari susu, khamr, dan madu yang tidak akan berubah rasanya lagi sangat lezat. Namun di neraka Allah berikan air mendidih dan sangat panas, dicambuk dengan cambuk besi hingga hancur, kemudian dikembalikan seperti semula. Dalam QS. Ibrahim:17 disebutkan juga bahwa minuman penghuni neraka ialah berupa nanah.
  10. Kesimpulan yang dapat diambil adalah ada pencipta yang menciptakan alam semesta ini, dan penciptanya adalah Allah. Allah tidak hanya pencipta kehidupan, namun juga memberikan panduan dalam menjalankan kehidupan tersebut. Ketika telah habis masanya dan kemudian mati, masih ada kehidupan setelah kematian, ada tempat kembali yang abadi, dan kehidupan tersebut bergantung pada amal apa yang dilakukan selama hidup di dunia. Cara pandang tersebut, yang menyeluruh terhadap kehidupan ini adalah aqidah islam. Keyakinan ini harus tertanam dengan keyakinan sebenar benarnya dan tidak ada keraguan sama sekali. Seorang mukmin harus menggunakan aqidah sebagai landasan berpikir, dimana aqidah tersebut melahirkan aturan aturan kehidupan, baik yang mencakup hubungan manusia dengan Allah, maupun manusia dengan manusia lain.
  11. Ada tiga kondisi manusia nanti di akhirat, yaitu:
    a) bahagia karena mendapatkan surganya Allah
    b) menyesal karena tidak banyak beramal dan menyia nyiakan kesempatan selama di dunia, atau dia beribadah tapi ternyata tidak ikhlas atau tidak sesuai dengan ajaran Rasul sehingga menjadi tidak berarti di akhirat
    c) menyesal dan bahkan berkata bahwa lebih baik menjadi tanah dan dikembalikan ke dunia
  12. Gaya hidup islam vs gaya hidup sekuler. Seseorang yang mempunyai gaya hidup sekuler, akan menganggap aqidah hanya mengatur ibadah mahdhah atau hubungan antara dirinya dengan Allah. Ketika dirinya hidup bermasyarakat dan dalam memenuhi kebutuhan hidup, tidak lagi memakai aturan Allah. Dan lama kelamaan karena lupa mengenai aspek aspek ibadah yang sesungguhnya, dia juga lupa mengenai hak hak Allah dan hidup untuk memenuhi kebutuhan dirinya saja. Namun jika memakai gaya hidup islam, seseorang akan berorientasi pada kehidupan akhirat dan dunia. Dia memperhatikan segala aspek kehidupannya apakah sesuai syariat atau tidak. Sehingga tidak hanya memperhatikan diri sendiri saja, dia hidup untuk kepentingan agama dan umat. Dia sadar bahwa dia bagian dari negara, dia bagian dari masyarakat, dia bagian dari umat islam, maka dia punya tanggung jawab untuk menjadikan negri ini tunduk dan patuh kepada pencipta alam semesta. Itu adalah kebahagiaan hakiki yang ingin dia wujudkan.
  13. Manusia harus senantiasa menjalani kehidupan atas dasar ibadah kepada Allah. Lantas bagaimana seharusnya seseorang beramal? Rasulullah bersabda, bahwa sesungguhnya orang yang cerdas adalah orang yang bisa menundukkan hawa nafsunya dan bisa beramal untuk bekal hidupnya setelah kematian. Sebaliknya orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan hanya banyak berangan angan. Ada sebuah pertanyaan dari seorang murid kepada Imam Ahmad bin Hanbal, jika hidup penuh dengan beribadah kepada Allah, lantas kapan seseorang beristirahat? Jawaban beliau adalah istirahatnya seorang hamba adalah pada saat menginjakkan kakinya di dalam surganya Allah. Jadi hidup di dunia adalah memang untuk berlelah lelah menggapai ridho Allah.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai