Di suatu siang, saat panas sedang mencapai terik teriknya, beberapa anak manusia sedang berkumpul di sebuah bangunan berdinding kokoh. Kelak, siapa sangka dinding yang kokoh itu menjadi saksi rapuhnya hati seorang wanita yang tengah bersandar di salah satu sisinya. Di tempat Ia duduk, Ia dapat melihat dengan jelas 2 wanita sedang bercengkrama, bercanda. Juga di sudut sana seorang lelaki tengah sibuk dengan game di smartphone nya. Awalnya atmosfer kebahagiaan begitu kuat terasa, hingga sesuatu terjadi seolah seperti streaming, tak bisa dicegah.
2 wanita yang sedang bercengkrama, sebut saja mereka R dan U, pembahasan mereka tiba di Ronaldowati.
R: siapa namanya Ronaldowati tuh, dulu rambutnya lucu
U: Meriam Belina (jawabnya becanda)
R: haaa iya ituuu
U: hahahaha kok percaya sih (katanya sambil terbahak bahak)
R: hilih tipu tipu (sambil mencubit lengan U)
Awalnya U masih terbahak bahak menertawakan kejailannya. Namun lengannya lama kelamaan semakin perih. R sedari tadi tidak melepaskan pinch nya, disertai dengan perubahan air muka emosi negatif. Wanita yang tengah bersandar sempat melerai tangan mereka. Namun R kembali mengulang aksinya dengan air muka mengeras. Sementara U berteriak kesakitan hingga Ia akhirnya menangis.
Bagi wanita yang tengah bersandar, itu seperti dejavu. R bertindak seperti apa yang telah dialaminya dan diterimanya sekitar 10 tahun yang lalu. Sempurna terulang, namun situasinya berbeda. Dari tempat duduknya, wanita yang bersandar hanya terdiam mematung, semua kilasan mimpi buruk itu kembali terulang tanpa bisa Ia cegah. Dan Ia cukup lama terdiam mematung. Bahkan hingga R beranjak pergi meninggalkan U yang tengah terisak menangis.
